oleh

Pantau Bencana KLB dan Gizi Buruk di Asmat

TIMIKA – Menteri Sosial, Idrus Marham, Sabtu (20/1) lalu melakukan kunjungan ke Kabupaten Asmat, untuk memantau kondisi masyarakat yang sekarang ini sedang mengalami bencana kesehatan dimana puluhan anak mengalami gizi buruk dan campak. Bahkan kasus ini sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Kementerian Kesehatan.

Idrus Marham yang ditemui wartawan di Terminal Perintis Bandara Mozes Kilangin usai kunjungannya dari Asmat mengungkapkan, total 67 anak meninggal dunia sejak September 2017 hingga Januari 2018.

Terdiri dari 3 orang yang menderita gizi buruk dan 64 lainnya karena campak. Penderita gizi buruk dan campak itu ditemukan di 4 distrik. Namun paling banyak di Distrik Pulau Tiga meski ada pula yang sempat dirawat di RSUD Asmat.

Untuk penanganan kasus gizi buruk dan campak, diungkapkan pria yang baru berapa hari lalu dilantik jadi Mensos menggantikan Khofifah Indar Parawansah  itu bahwa, tim terpadu sudah dibentuk.

“Sebagian besar sudah tertangani meskipun juga disadari bahwa masih ada beberapa distrik yang perlu ditelusuri, dari kampung-kampung memeriksa anak-anak dan keluarga yang terkena campak maupun gizi buruk,” terangnya.

Ia mengungkapkan, sekitar 7.123 anak dari 73 kampung sudah mendapatkan pelayanan medis. Mereka ditampung di rumah sakit serta beberapa tempat, termasuk gereja untuk mendapatkan pelayanan dari tim dokter.

Yang perlu dilakukan menurut Idrus, bagaimana anak-anak bahkan seluruh warga bisa terus mendapatkan perawatan, baik yang menderita gizi buruk dan campak agar secara perlahan kasus ini bisa ditangani.

Ia memastikan, bantuan untuk masyarakat sudah tersedia dan secara berkala disalurkan sesuai dengan laporan dari beberapa daerah. Kemensos dalam momen kunjungan Menteri Sosial, juga memberikan bantuan beras sebanyak 3 ton, dan makanan tambahan sebanyak 25 ribu paket untuk anak-anak.

Kemensos lanjutnya, akan meningkatkan program untuk Kabupaten Asmat. Misalnya Program Keluarga Harapan (PKH) yang baru menyentuh Distrik Agats, dengan jumlah penerima 171 Kepala Keluarga, tahun ini ada tambahan 391 KK.

“Bahkan akan diperluas jadi 13 ribu yang akan diserahkan ke seluruh distrik di Asmat sehingga lewat PKH ini, masyarakat dapat bantuan uang, tapi juga ada pendampingan intensif oleh pendamping,” terangnya.

Mensos juga menyatakan, penanganan masalah ini harus secara komprehensif mulai dari pembangunan infrastruktur, rumah sakit hingga pendidikan anak. Ia mengapresiasi Pemda setempat yang memiliki program bantuan, berupa makanan kepada ibu hamil selama 1.000 hari dan akan ditingkatkan lagi jadi dua tahun.

Sementara itu, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial, Harry Hikmat menyatakan Kemensos akan membantu Kabupaten Asmat dengan memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat. Juga akan dibentuknya Kampung Siaga bencana dengan membentuk Taruna Siaga bencana (Tagana) yang menjadi relawan dalam penyaluran bantuan.

Soal pengembangan PKH yang harus dibarengi dengan adanya pendamping dikatakan Harry, di Asmat baru ada 10 orang pendamping. Sementara jika penerima ada 13 KK, maka dibutuhkan 65 pendamping. Untuk itu Pemda Asmat, diharapkan bisa merekrut tenaga pendamping yang berasal dari masyarakat setempat. (sun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *