oleh

Willem Wandik Dinobatkan Sebagai Tokoh Perdamaian Asia

BALI – Langkah Bupati Puncak, Willem Wandik, SE MSi, yang selama ini terlibat langsung dalam sejumlah perdamaian dari perang saudara yang terjadi di Kabupaten Puncak pada tahun 2011-2013 akibat Pilkada pertama di kabupaten tersebut, termasuk menjaga Kabupaten Puncak tetap aman saat Pilkada serentak 2018 lalu, serta beberapa rentetan perdamaian perang saudara di Kwamki Narama Kabupaten Mimika, akhirnya mengantarkan dirinya meraih penghargaan sebagai tokoh perdamaian Tingkat Asia atau Category of Asia Messenger of Peace & Harmony 2018, oleh Seven Media Asia dan Asia Global Council dan The Key People Magazine, salah satu lembaga yang aktif memberikan penilaian terhadap kinerja tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia dan Asia.

Penghargaan diterima langsung oleh Bupati Puncak di The Trans Resort Hotel, Bali, Jumat (15/3) pekan kemarin.

Khusus untuk tokoh perdamaian sendiri harusnya diberikan sejak Mei 2018 lalu di Kuala Lumpur, Malaysia, hanya saja karena bersamaan dengan pelaksanaan tahapan Pilkada serentak, sehingga Willem Wandik tidak sempat menghadiri acara tersebut. Sehingga, penghargaan tersebut baru diberikan bersamaan dengan pemberian penghargaan The Most Inspiring & Innovative Figure Award 2019 untuk Kategori Bupati di Bali.

Ya, Willem Wandik dinilai berhasil dalam menjaga kedamaian di wilayah yang dipimpinnya, meski diketahui daerah tersebut merupakan daerah yang rawan konflik. Willem Wandik juga terlibat dalam proses perdamaian saat Pilkada pertama di Kabupaten Puncak Tahun 2011-2013, serta Pilkada serentak 2018 lalu juga berjalan aman dan damai. Padahal saat itu Kabupaten Puncak dianggap oleh berbagai pihak menjadi daerah paling rawan konflik di Indonesia.

Saat diwawancarai oleh awak media usai menerima penghargaan, Bupati Puncak, Willem Wandik menyampaikan dirinya tidak pernah berpikir bekerja untuk mendapatkan penghargaan.

Karena yang ada di benaknya adalah bagaimana mengakhiri perang saudara, terutama di Puncak saat pilkada pertama, 2011-2013 lalu, yang mengakibatkan sekitar puluhan orang meninggal dunia sia-sia.

Karena baginya kedamaian itu mahal. Pembangunan di daerah bisa berjalan ketika suasana damai, tidak ada rasa takut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *