oleh

Presiden Diminta Gelar Rapat Terbatas Selesaikan Masalah Ndugama

ILAGA – Presiden RI, Joko Widodo diminta segera menggelar rapat terbatas, dalam rangka menyikapi persoalan di Ndugama, dengan mengundang berbagai pihak yang berkepentingan di Kabupaten Nduga. Pasalnya hingga saat ini masyarakat di sana masih merasa ketakutan hingga banyak yang mengungsi keluar Nduga. Bahkan banyak warga yang mengalami kelaparan dan tidak bisa menikmati hari raya Natal, seperti saudara-saudaranya di daerah lain.

Demikian hal tersebut disampaikan Anggota Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua, Willem Wandik, SE MSi kepada wartawan melalui telepon selulernya, Jumat (27/12).

“Kami harapkan kepada pak Presiden yang mulia dan jajarannya, Mengkopolhukam, Panglima TNI, Kapolri, agar mendengar jeritan rakyat Ndugama, untuk membicarakan persoalan Ndugama dalam rapat terbatas untuk menyelesaikan persoalan di sana. Sebab saat ini rakyat di sana sedang trauma. Jika tidak, maka masalah Nduga akan menjadi masalah Nasional dan Internasional, karena kehadiaran Negara bukan hanya pembangunan, namun juga memberikan perlindungan,memberikan rasa aman, rakyat tidak trauma dan rakyat tidak lapar, tidak takut dan sebagainya,” katanya.

Willem Wandik mengatakan, pemerintah pusat juga perlu merubah pola pendekatan kepada masyarakat di Kabupaten Nduga, yakni dengan pendekatan persuasif. Sebab jika menggunakan pendekatan militer atau senjata, sampai kapanpun persoalan di Kabupaten Nduga tidak akan pernah selesai, justru akan menanamkan rasa kebencian rakyat Nduga kepada Negara.

“Pemerintah pusat perlu diagnosa secara baik akar persoalan di Nduga, diagnosa secara idelogi, politik, kultur budaya, kemanusiaan, hak ulayat, sehingga penanganan juga secara baik, bisa menyelesaikan persoalan di Ndugama,” tuturnya.

Lanjut Willem Wandik, di Papua ini ada berbagai suku dan budaya yang berbeda, khususnya di wilayah Pegunungan Tengah, seperti suku Dani, Damal, Moni, Mee dan Nduga, yang memiliki budaya perang, sehingga ketika salah satu saudaranya dibunuh dengan senjata, maka pasti keluarganya juga akan membalas dengan senjata. Dan persoalan ini, lanjutnya, akan selalu diingat sepanjang masa. Jika satu keluarga mati, akan tumbuh seribu, artinya bahwa peristiwa penembakan keluarganya akan diingat selamanya. Generasi mereka akan ingat kembali, tidak akan pernah melupakan peristiwa itu, sampai harus membalas dengan senjata, sehingga atas budaya itu, maka pemerintah perlu mengubah cara penanganan masalah di Nduga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *