oleh

Waket I DPRD Gelar Ibadah dan Bakar Batu

TIMIKA – Wakil Ketua (Waket) I DPRD Mimika, Aleks Tsenawatme gelar ibadah dan bakar batu guna pemulihan trauma psikis warga yang dievakuasi dari Banti I, Banti II, Kimbeli dan Opitawak, Distrik Tembagapura beberapa waktu lalu.

Acara ibadah dan bakar batu yang digelar di pekarangan Kantor Sekretariat II Konferensi Sinode XI Koordinator Puncak Papua, Puncak Selatan, Puncak Timur Dan Intan Jaya, Jalan Cenderawasih, Jumat (13/3) dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, karena warga dari Distrik Tembagapura masih diberikan keselamatan dan bisa dievakuasi ke Timika dari konflik bersenjata.

Aleks menjelaskan, bahwa bakar batu dan ibadah bersama ini tidak mempunyai tujuan lain selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, lantaran masyarakat dari empat kampung itu selamat dan keluar dari situasi konflik horisontal yang terjadi.

Momen ini juga sekaligus menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas dukungan masyarakat di empat kampung tersebut pada pemilu 2019 lalu, sehingga saat ini bisa meraih kursi sebagai Waket I DPRD Mimika. Dalam acara ini bukan untuk menampung aspirasi dari masyarakat ataupun tokoh masyarakat.

“Saya ini anak yang berasal dari empat kampung itu. Saya ikut prihatin dan merasakan apa yang masyarakat saya alami. Makanya saya bakar batu dengan 13 ekor babi. Dan yang terpenting adalah ibadah untuk pemulihan psikis mereka atas rasa takut pada persoalan yang mereka hadapi di atas,” ungkap Aleks.

Setelah dievakuasi menurut dia, masyarakat empat kampung harus meninggalkan rumah, harta termasuk gereja, sehingga melalui ibadah bersama mereka bisa dikuatkan secara iman bahwa ini adalah cobaan yang harus dihadapi dan tetap percaya kepada Tuhan.

Seluruh masyarakat yang saat ini ada di Timika hanya dievakuasi sementara, tetapi saat situasi di Tembagapura telah kondusif, maka mereka semua akan kembali.

“Kita tidak tahu sampai kapan sitiasi itu kondusif. Namun diharapkan semuanya cepat kembali normal, supaya masyarakat kita kembali dan menjalankan kehidupan dan beribadah di gereja mereka di kampung. Jujur saya sangat prihatin, karena itu dengan bantuan rekan-rekan di dewan, saya bisa gelar ibadah dan bakar batu ini,” tuturnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *