oleh

Sampel ODP di RSUD Mimika Masih Diperiksa

TIMIKA – Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) pada Selasa (24/3) lalu, ditemukan satu balita dengan status Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19. Itu disampikan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Mimika, Reynold Ubra dalam keterangan tertulisnya kepada media, Selasa (24/3) lalu.

Pasien yang merupakan seorang anak laki-laki berumur 1 tahun 11 bulan yang datang ke RSUD Mimika pada (23/3)  berdasarkan tanda dan gejala serta hasil foto rontgen menunjukan pneumonia berat. Pasien ini tidak memiliki riwayat kontak erat dengan ODP (kontak erat risiko rendah) maupun PDP (kontak erat risiko tinggi) bahkan tidak punya riwayat bepergian ke daerah terjangkit.

Namun kata Reynold, atas pertimbangan medis terutama tindakan pencegahan serta mengingat situasi penyebaran Covid-19 saat ini, maka pasien dikategorikan sebagai ODP dan RSUD telah mengirimkan sampel untuk diperiksa pada Selasa (24/3).

Dijelaskan Reynold, sebagaimana kebijakan Kementerian Kesehatan untuk status ODP belum dapat diperiksa dan yang diprioritaskan adalah orang dengan status PDP. Oleh Tim Kesehatan Provinsi Papua statusnya pasien disebut PDP. Langkah ini dilakukan dengan pertimbangan supaya sampel tetap dapat diperiksa. Oleh karena itu status pasien dirubah dari ODP menjadi PDP.

Perlu diketahui bahwa jika ada orang dengan status ODP maka penanganan yang dilakukan adalah isolasi, demikian pula untuk penetapan status maka perlu dikaji dua bagian besar, yaitu tanda atau gejala klinis disertai pemeriksaan medis lainnya dan faktor risiko.

“Pada kasus ini, oleh orang tua tidak dapat memberikan penjelasan terhadap faktor risiko serta dengan lebih mempertimbangkan penanganan medis maka langkah yang dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penanganan lebih lanjut,” katanya.

Kondisi pasien saat ini sudah  kata Reynold sudah membaik, namun masih tetap dalam penanganan tim medis di RSUD Mimika. “Langkah yang akan dilakukan oleh tim gugus tugas adalah melakukan investigasi lebih lanjut terutama informasi riwayat kontak untuk menentukan faktor risiko sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujar Reynold. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *