Beranda Utama

Kondisi Balita PDP Covid-19 di RSUD Sudah Pulih

BAGIKAN

TIMIKA – Hasil pemeriksaan laboratorium Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 yang dirawat di RSUD Mimika sampai Kamis (26/2) kemarin belum keluar. Kondisi PDP yang adalah seorang balita berusia 1 tahun 11 bulan itu sudah membaik, bahkan dinyatakan sehat atau pulih.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19, Reynold Ubra kepada wartawan, Kamis (26/2) di Posko Covid-19 mengatakan sudah dua kali dilakukan pengiriman sampel ke provinsi untuk dilanjutkan ke Balitbang Kemenkes di Jakarta. Namun hasilnya belum ada.

Kalaupun hasil pemeriksaan laboratorium dari Balitbang Kemenkes terhadap sampel PDP tersebut sudah ada, maka akan disampaikan oleh Dinkes Provinsi Papua. “Saya sangat berharap sore ini atau paling lambat besok ini sudah bisa disampaikan kepada publik dan sebagaimana mekanismenya. Karena sampel ini dikirim ke Jayapura, maka yang akan menjawab atau menjelaskan itu adalah tim gugus melalui juru bicara Dinkes Provinsi Papua,” terang Reynold.

Sambil menunggu hasil rujukan atau pemeriksaan sampel, kata Reynold, tidak serta merta tindakan medis dihentikan. “Dia sudah dalam kondisi pulih, sudah sehat dan siap untuk pulang. Informasi terakhir yang saya dapatkan dari rumah sakit, kondisinya sudah membaik,” ujarnya.

Setelah laporan hasil pemeriksaan sudah ada dan pasien dinyatakan sehat, maka Dinkes Mimika akan mengeluarkan surat bahwa pasien tersebut dinyatakan sehat. Tapi jika sebaliknya, maka akan dilanjutkan penanganan dan melacak kontak dengan pasien.

Selain satu kasus PDP atau oleh gugus tugas disebutkan masih status ODP itu, ditegaskan Reynold belum ada pengiriman sampel lagi karena berdasarkan laporan SKDR belum ada PDP maupun ODP. Sebab untuk penetapan ODP dan PDP harus memenuhi kriteria tertentu.

Terkait isu yang berkembang mengenai meninggalnya dua orang pendeta beberapa hari lalu, dipastikan bahwa tidak ada kaitannya dengan Covid-19. Sebab pendeta yang meninggal memiliki riwayat penyakit tidak menular.

Tapi diakui Reynold, salah seorang pendeta yang meninggal sempat mengikuti pertemuan di Lembang. Dimana kegiatan tersebut menjadi salah satu klaster penyebaran Covid-19. Tim sudah melakukan investigasi dan dikonformasi dari rumah sakit bahwa pasien yang meninggal sudah punya riwayat penyakit tidak menular sebelumnya.

Selain pendeta yang sudah meninggal itu, ada tiga orang lainnya yang juga ikut serta dalam kegiatan. Dinkes melakukan pemantauan termasuk terhadap dua orang pemuda yang hadir di sana. Mereka terus dipantau hingga melewati masa inkubasi 14 hari bahkan 17 hari. “Tidak ada tanda demam, batuk maupun sesak nafas, sehingga kami tidak mau nyatakan sebagai orang dalam pemantauan. Jadi kasus ini klir, dua kematian pendeta ini tidak ada hubungan dengan Covid-19,” tegas Reynold. (sun)