Beranda Utama

Tak Semua Punya Smartphone, Belajar Online Tidak Maksimal

BAGIKAN
Fritz Padwa

TIMIKA – Penerapan belajar dari rumah yang diterapkan pemerintah di seluruh wilayah Indonesia, ternyata tidak sepenuhnya berjalan lancar, khususnya di Kabupaten Mimika. Hal ini disebabkan karena tidak semua orang tua murid memiliki ponsel pintar atau fasilitas memadai lainnya seperti koneksi internet untuk mendukung pola pembelajaran online. Kondisi ini terjadi di beberapa sekolah di Mimika, seperti halnya di SD Ebenhaezer.

Sekolah yang memiliki 500-an murid ini, memberlakukan sistem belajar dari rumah secara online sejak pemerintah menetapkan keputusan tersebut. Namun, karena keterbatasan fasilitas sehingga hanya bisa diterapkan untuk kelas 5 dan 6 saja. Kelas 1-4 belum begitu maksimal.

“Kami berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anak kami, karena kami tidak ingin mereka ini ketinggalan mata pelajaran. Apalagi sekarang waktunya kembali ditambah yang sebelumnya 6 April menjadi 23 April. Tapi fasilitas nyatanya yang tidak mendukung,” kata Kepala Sekolah SD Ebenhaezer Timika, Fritz Padwa saat dihubungi Radar Timika, Selasa (7/4).

Mekanisme belajar online yang diterapkan adalah setiap hari guru mengirimkan tugas sesuai dengan jadwal mata pelajaran sekolah melalui pesan singkat WhatsApp untuk dikerjakan siswa dan ketika siswa sudah selesai mengerjakan tugas tersebut, siswa langsung mengirim hasil pekerjaannya , sehingga guru bisa langsung mengkoreksi hasil pekerjaan siswa.

Ia mengatakan pihak sekolah tidak memiliki hak untuk meminta orang tua membeli fasilitas yang dimaksud, karena menurutnya hal tersebut merupakan urusan pribadi para orang tua murid. Namun ia pun tidak bisa melihat siswanya ketinggalan mata pelajaran, sehingga beberapa waktu yang lalu ia bersama dengan semua guru melakukan pertemuan untuk membahas hal tersebut dan sepakat untuk membuat video pembelajaran yang siap dibagikan kepada orang tua melalu flashdisk.

Namun sayangnya hal itu belum dilakukan karena belum ada respon dari orang tua murid. Sehingga sampai saat ini Fritz pun tidak bisa berbuat banyak. Tetapi ia tetap meminta kepada semua guru khususnya guru wali kelas untuk tetap memantau siswanya. Memberikan tugas bagi siswa yang bisa dihubungi.

“Sebenarnya yang flasdisk ini adalah solusi bagi yang tidak punya HP canggih, tapi hanya beberapa orang tua yang ikut pertemuan, sehingga sampai saat ini tidak berjalan juga. Kita sudah sangat ketinggalan. Kelas 4 tidak semua bisa ikut belajar online itu,” jelasnya.

Namun terkait dengan pemotongan uang sekolah, Fritz tidak bisa memastikannya. Pasalnya keputusan tersebut harus berdasarkan kesepakatan bersama dengan Yayasan. Namun ia yakin semua usulan akan dipertimbangkan. (ptb)