oleh

Misa Jumat Agung, Umat Diajak Hidup Penuh Cinta dan Kesetiaan

TIMIKA – Misa Jumat Agung di Gereja Katolik Katedral Tiga Raja mengajak umat untuk terus hidup dalam cinta dan kesetiaan. Meski pelaksanaan misa tanpa diikuti umat di gereja, namun misa tetap berjalan dan umat diminta untuk berdoa dari rumah masing -masing.

Misa Jumat Agung yang mengisahkan napak tilas atau kisah sengsara Yesus yang setia memikul salib sampai ke puncak Golgota, ini mau mengajarkan kepada umat manusia tentang cinta dan kesetiaan.

Hal itu diungkapkan Pastor Octovianus Taena, Pr melalui homili pada misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja, Jumat (10/4) lalu.

“Situasi saat ini termasuk salib yang paling berat yang harus kita pikul dengan cinta dan setia, yaitu bersama-sama melawan Covid-19. Ini adalah salib global yang harus kita tantang, pegang bersama,  baik pemerintah, dunia kesehatan, organisasi-organiasi kemanusiaan dan keagamaan, mari kita saling bahu-membahu untuk memeranginya,” ajaknya.

Pastor Octo mengungkapkan, salah satu cara praktis yang bisa dilakukan saat ini adalah menjaga dan melindungi diri sendiri dan keluarga masing-masing.

“Tinggallah dulu di rumahmu, tinggallah dulu di kampungmu, daerahmu atau wilayahmu. Karena virus ini bisa hidup dan berkembang kalau kita saling berdekatan dan bersentuhan,” ucapnya.

Ia menuturkan, situasi saat ini sungguh suatu pelajaran hidup bagi kita umat Kristiani, dimana pun kita berada. Karena hidup kita harus jalan terus, jangan pernah berhenti untuk hidup, karena ada pergumulan, penderitaan dan tantangan.

“Maka saya mengajak kita semua pandanglah salib, lihatlah salib itu dan mohonlah kekuatan dari Tuhan agar kita terbebas dari virus corona,” sebutnya.

Melalui bacaan pertama, pastor Octo mengisahkan salib merupakan pemandangan yang tidak enak, yaitu tidak enak untuk didengar atau disimak, tetapi siapa sangka dibalik peristiwa salib ada kehidupan sukacita dan kebahagiaan.

“Peristiwa di puncak Golgota, bukan lagi pengalaman yang menyedihkan, melainkan gambaran sebuah pengalaman yang penuh cinta dan kesetiaan, dimana kita bisa merasakan saat Yesus disalibkan,” tuturnya.

Pastor Octo menyebutkan, bahwa Yesus tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar, amarah, dendam atau kebencian. Melainkan sebaliknya, kata-kata Yesus penuh cinta dan pengampuan. Ketika kita melakukan sebuah tindakan pengrobanan, menurut Pastor Octo, itu karena digerakkan oleh sebuah cinta, maka kita mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin menurut kita, tapi itu menjadi mungkin bagi Allah sendiri.

“Contohnya, banyak keluarga Kristiani yang tidak bertahan lama karena cintanya rapuh. Banyak pula kelompok atau komunitas sosial dan keagamaan yang bahkan bubar karena tidak didorong oleh cinta dan kesetiaan. Banyak pekerjaan atau tugas yang terbengkelai karena kurang dilakukan dengan mencintai dan mencoba untuk tetap setia,” terangnya.

Maka dari itu, kata Pastor Okto, cinta tanpa pengorbaan itu bukanlah cinta yang sejati.

Karena cinta harus diikuti oleh sebuah pengorbanan, karena disitu kita bisa tahu dan menguji ketangguhan tentang arti sebuah cinta.

Untuk diketahui, Misa Tri Hari Suci atau misa Paskah tahun 2020 di gereja Katedral Tiga Raja mulai misa Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci dan Minggu Paskah tanpa kehadiran umat. Namun umat dapat mengikuti misa tersebut melalui live streaming dan saluran Radio Publik Mimika dan Saluran Radio Suara Tiga Raja.(itz)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *