oleh

Polisi Bubarkan Pemalangan Jalan Masuk Pemakaman

TIMIKA – Aparat kepolisian membongkar sejumlah kayu yang digunakan warga di sekitar TPU SP 1 untuk memalang jalan atau menutup akses jalan menuju tempat pemakaman, Senin (13/4). Pembongkaran dilakukan karena aksi pemalangan ini sudah sangat merugikan masyarakat lainnya yang hendak menuju kuburan.

Kapolsek Mimika Baru, Kompol Sarraju usai pembongkaran palang jalan mengatakan, aksi pemalangan ini dilakukan akibat kurangnya informasi yang diterima masyarakat, sehingga warga memprotes dan menolak jenazah pasien positif Virus Corona (Covid-19) untuk dikebumikan di pemakaman tersebut.

Warga beralasan, penolakan tersebut dilakukan demi menjaga kesehatan dan nyawa mereka yang bermukim di sekitar pekuburan tersebut.

Walaupun demikian, Kapolsek menegaskan bahwa pemalangan jalan tak bisa dibenarkan untuk dilakukan. Sebab, yang ditakutkan ialah nantinya muncul masalah baru akibat pemalangan tersebut dibiarkan.

“Itu yang kita hindari makanya tadi diambil tindakan agar dibuka kayu pemalangnya,” ujar Kapolsek usai pembongkaran palang jalan.

Polisi membongkar palang jalan disaksikan warga.

“Apapun alasannya pemalangan tidak boleh dilakukan. Apalagi mengingat ini (jalan dan kuburan) merupakan akses untuk umum,” tambahnya.

Warga juga sempat mendapatkan penjelasan dari Kepala Puskesmas Wania, Sonya Helena Yewun di lokasi pemalangan. Dijelaskan, masyarakat sebenarnya tidak perlu khawatir dengan dikebumikannya orang terdampak Covid-19 di tempat tersebut. Sebab jenazah sudah dimakamkan dengan baik sesuai standar prosedur yang berlaku. Ia juga menyampaikan, jenazah sudah disemprotkan cairan khusus sebelum dikebumikan sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Jenazah itu di dalam peti bahkan dibungkus juga dengan plastik sampai tiga lapis. Plastik khusus, bahkan didalamnya itu juga ada seng. Jadi tidak perlu takut karena yang menangani mereka juga orang-orang khusus,” jelasnya kepada warga.

Sebelumnya, aksi pemalangan dilakukan dengan cara menutup jalan dengan menggunakan batang pohon dan dedaunan. Adapula sejumlah papan yang diletakkan di tengah jalan yang bertuliskan kalimat penolakan.

Dalam aksi pemalangan tersebut, masyarakat menuntut tiga poin yang dituangkan dalam surat tuntutan aksi, diantaranya menolak pasien Covid-19 dikebumikam di TPU SP 1, masyarakat juga meminta agar pemerintah membangun saluran pembuangan air di belakang kuburan hingga penyaluran air bersih di lima titik serta bantuan logistik dan bahan makanan (Bama) untuk mereka.

Menurut perwakilan masyarakat setempat, Ariyas Murib, saat jenazah dikebumikan di TPU SP 1, mereka tak mengetahui hal tersebut. Disisi lain ia menilai pemerintah daerah tak pernah memberikan sosialisasi terlebih dahulu apakah ada dampak mengenai dikuburnya jenazah di sekitar rumah mereka.

Kekhawatiran lain, katanya, yakni berkaitan dengan air hujan yang biasanya menggenang di pekuburan yang ditakutkan mengalir ke halaman rumah warga sekitar. Ia menjelaskan, ada sejumlah warga yang tinggal tidak jauh dari pekuburan dan mempunyai sumur yang tidak digali dalam.

“Air nanti menggenang baru lari ke rumah warga. Kami ini masyarakat punya rumah ada sumur tapi itu dangkal saja. Karena sumur itu digali pakai tangan. Air itu kami gunakan untuk mandi, masak, dan cuci piring,” ujarnya yang dibenarkan sejumlah warga.

“Kami hanya mau sampaikan bahwa kami di sekitar TPU SP 1 ini tidak dapat bantuan padahal di tempat lain-lain dapat. Padahal disini juga dikuburkan orang yang telah terkena Corona,” tutupnya.

Sementara itu, menemui masyarakat yang menyampaikan aspirasinya, Kepala Distrik Wania, Leonard Kareth menyatakan, bantuan yang diinginkan warga pasti akan tiba. Sementara ia juga menyatakan aspirasi masyarakat akan disampaikan ke pimpinan daerah termasuk bantuan yang diminta masyarakat.

“Itu (bantuan) nanti ada gilirannya. Sekarang kita hanya perlu menunggu sampai dua atau tiga hari kedepan. Kami juga mengerti kekhawatiran masyarakat yang tinggal disekitar sini,” ungkapnya. (dcx/itz)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *