Beranda Metro Timika

OPD Diminta Ikut Awasi Pelarangan Pengiriman Telur Keluar Timika

BAGIKAN
Robby K Omaleng

TIMIKA – Demi ketersediaan stok telur lokal di Timika, Dinas Peternakan dan Keswan terus melakukan upaya, agar tidak ada pengiriman ke luar daerah. Untuk itulah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemda Mimika diminta untuk ikut mengawasi, agar tidak ada pihak manapun yang mengirimkan telur lokal ini ke luar daerah.

Hal itu diungkapkan Ketua DPRD, Robby Kamaniel Omaleng, Kamis (30/4). Dikatakannya, dengan adanya pelarangan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, telah membuat pengusaha atau warga tidak mengirim telur ke luar Timika, demi  pemenuhan stok telur di tengah pandemi Covid-19.

“Kebijakan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan yang telah mengeluarkan larangan mengirim telur keluar Timika, harus diawasi bersama, agar tidak ada lagi pengusaha yang mengirim keluar, demi ketersediaan stok telur di Mimika,” ungkap Robby.

Dijelaskannya, selain Dinas Perternakan sendiri, baiknya dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, membentuk tim pengawasan untuk memastikan agar tidak ada pengiriman telur ke luar lagi.

Lanjutnya, langkah yang diambil Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang melarang pengiriman telur keluar dari Timika adalah langkah yang sangat tepat, demi menjaga ketersediaan kebutuhan telur bagi warga selama masa pandemi Covid-19.

“Dengan kondisi saat ini tidak normal akibat wabah Covid-19, di mana kebutuhan atau permintaan telur untuk pemenuhan kebutuhan terjadi peningkatan,” ujarnya.

Melihat akan permintaan masyarakat untuk konsumsi telur terus terjadi, maka sebut Robby,  harus ada stok telur yang cukup. Setelah stok untuk masyarakat Timika aman, maka baru bisa kirim keluar Timika.

“Kalau kondisi normal dan lancar, saya kira tidak ada masalah untuk membantu kabupaten tetangga. Tapi kalau kita yang akhirnya kewalahan untuk ketersediaan telur, nah ini yang menjadi masalah,” paparnya.

Lanjutnya, akibat pandemi ini yang belum tahu berapa lama akan terus terjadi, kita perlu memperhitungkan dan mengantisipasi seluruh kebutuhan pokok termasuk telur di Timika.

Hal ini sendiri berdasarkan informasi dari Dinas Peternakan, bahwa akan mengalami penurunan produksi telur lokal di Bulan Juli mendatang mencapai 1.000 rak perhari. Dan jika larangan ini tidak diindahkan oleh warga, maka akan menjadi masalah terutama untuk memenuhi permintaan warga.

“Kebutuhan pasti meningkat terus, ya bukan saja selama pandemi Covid-19, tetapi kebutuhan masyarakat selama ramadhan dan jelang Hari Raya Idul Fitri juga akan meningkat drastis,” imbuhnya. (ami)