oleh

Trifena Tinal Apresiasi Bulog Serap Beras Merauke

TIMIKA – Anggota Komisi VI DPR RI, Trifena Tinal mengapresiasi Bulog Timika yang mampu menyediakan stok beras di tengah situasi pandemi Covid-19. Yang lebih membanggakan lagi menurut Trifena, adalah beras itu berasal dari Merauke. Itu diungkapkan Trifena ketika mengunjungi Bulog Timika, Selasa (19/5) kemarin.

Setelah berbincang dengan pihak Bulog Timika, Trifena menyatakan bahwa Bulog memastikan kebutuhan pangan bisa dicover selama 6 bulan kedepan meskipun ada Covid-19.

“Kami bersyukur, Bulog sampaikan hampir semua beras yang disalurkan adalah dari Merauke. Jadi dalam kesusahan ini kita sudah bisa mengambil beras di tempat sendiri. Jadi itu luar biasa, mereka juga akan bawa gula untuk menekan harga gula yang luar biasa di pasar saat ini,” terangnya.

Dengan stok pangan yang tersedia, Trifena berharap masyarakat di Kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak yang dilayani Bulog Timika bisa terpenuhi di tengah situasi Covid-19 dan lebih khusus hari raya Idul Fitri.

Namun ia berharap Bulog Timika juga bisa sama seperti Bulog di daerah lain yang bisa menjalankan penugasan stabilisasi harga komoditi lain seperti bawang putih agar tidak terjadi permainan harga yang membuat masyarakat tercekik. Apalagi sudah ada tol laut yang bisa dimanfaatkan untuk distribusi komoditi dari luar Mimika.

Kepala Kansilog Timika, Ariek Estyanto Indra Wibowo mengatakan stok beras dalam pembongkaran saat ini ada 1.000 ton. Yang sudah dibongkar sekitar 300 ton dan tersisa 700 ton. Kapal dari Merauke yang mengangkut 1.500 ton beras juga sudah tiba. Sehingga total stok beras di Mimika sekitar 2.200 ton. Rata-rata penyaluran setiap bulan sebesar 400 sampai 500 ton.

Semua beras yang ada di Bulog Timika sekarang ini berasal dari Merauke karena sedang panen raya. Tiap hari beras yang diserap dari petani sekitar 50 sampai 100 ton. Tahun lalu, Merauke bahkan surplus beras sehingga disupply ke beberapa daerah di Papua termasuk Mimika.

Ariek mengatakan, di Mimika juga ada produksi padi tapi belum diserap oleh Bulog karena harga yang diterapkan sangat jauh di atas harga yang ditetapkan Bulog. Petani di Mimika menjual beras Rp 13.000 ribu per kilogram, sementara standar Bulog Rp 8.300 per kilogram.

Bulog melayani beras medium dan premium. Untuk komoditi lainnya dengan adanya penugasan pemerintah dalam rangka stabilisasi harga maka sebanyak 125 ton gula kristal putih dalam proses distribusi. Memang terjadi kenaikan harga gula karena stok di pabrik gula juga kosong. Jadi stok yang akan didatangkan sebagian impor dan dari Lampung.

Harga jual gula oleh Bulog sesuai harga eceran tertinggi yang diatur Permendag yaitu Rp 12.500 per kilogram. Di pasar harga gula bisa mencapai Rp 26 ribu per kilogram.

“Jadi komoditi untuk stabilisasi harga yang kami kuasai hanya beras saja. Untuk gula penugasan, jadi pada saat dibutuhkan kami operasi pasar gular pasir,” terangnya.(sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *