Beranda Utama

Kapolres Pastikan Oknum Anggotanya Diproses

Yang Diduga Lakukan Pengeroyokan

BAGIKAN
AKBP I Gusti Gde Era Adhinata

TIMIKA – Kapolres Mimika, AKBP I Gusti Gde Era Adhinata membenarkan bahwa pelaku penganiayaan yang sempat viral beberapa hari terakhir adalah anggota Polres Mimika. Namun dirinya memastikan oknum yang bersangkutan akan ditindak tegas sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Kapolres ketika ditemui wartawan, Jumat (22/5) kemarin menjelaskan, permasalahan yang beredar videonya tersebut, berawal dari adanya kekerasan yang dialami orangtua salah satu oknum yang melakukan penganiayaan. Anggota polisi yang dimaksud kemudian dikuasai emosi dan bersama beberapa kawannya lantas beramai-ramai mencari pemabuk yang memukuli orangtuanya tersebut.

Tetapi, oknum polisi tersebut tidak menemui pemabuk yang mereka cari. Namun mereka mendengar adanya penjualan tuak di sebuah warung. Sampai di tempat tersebut, anggota kepolisian menemui korban. “Nah sampai disana, setelah mencari informasi, nyatanya korban sampaikan bahwa minuman (tuak) itu tidak bisa diproses (hukum) karena tidak mengandung alkohol. Korban juga mengelak dengan mengatakan tidak ada tuak. Tapi anggota bertambah emosi karena mereka menemukan gen berisi tuak yang dicari,” jelas Kapolres Era Adhinata.

Tetapi meskipun menemukan adanya praktik penjualan miras jenis tuak, Kapolres menegaskan dalam setiap penindakan hukum, anggota kepolisian diwajibkan melakukan tindakan tegas dan terukur. “Nah anggota kami melakukan kesalahan karena tidak dilakukan secara terukur. Atas permasalahan yang terjadi, saya minta maaf dan saya akan melakukan tindakan tegas kepada oknum itu,” ungkapnya.

Ia juga membenarkan bahwa dirinya telah menerima informasi tentang pihak korban yang mendatangi Polres Mimika untuk melaporkan sejumlah oknum yang melakukan penganiayaan.

Tetapi, ia berharap semua orang yang telah menyaksikan video yang tersebar tersebut mengetahui akar permasalahannya. “Yang penting ialah, penindakan miras itu perlu diketahui sebagai akar masalahnya, apalagi di masa pagebluk seperti sekarang. Jadi kami juga sedang meminta video lengkap dari yang direkam supaya ketahuan akar masalahnya karena tidak mungkin anggota kami datang langsung melakukan pemukulan,” tutupnya.

Sebelumnya, tim kuasa hukum korban penganiayaan oknum anggota polisi yang videonya sempat viral, akhirnya melaporkan oknum kepolisian yang dimaksud. Tim penasehat hukum yang dipimpin Albert Bolang, Jumat (22/5) kemarin mendatangi Polres Mimika untuk mengajukan laporan.

Albert Bolang dan tim saat melaporkan oknum polisi ke Polres Mimika, Jumat (22/5).

Kepada Wartawan di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Albert Bolang menjelaskan, laporan yang dilayangkan justru sebagai bentuk pihaknya menghormati institusi kepolisian. “Jadi justru kita laporkan ini supaya tidak ada penafsiran lain-lain. Atau bahkan meluber masalahnya kemana-mana,” ujarnya.

Disisi lain ia mengungkapkan, kasus yang terjadi pada 14 Mei 2020 di salah satu lokasi warung yang menjual tuak di Nawaripi tersebut, terindikasi ialah pengeroyokan. Ia berharap, kasus tersebut diproses secaha hukum. Bahkan, bila perlu disidang dalam peradilan umum.

Albert Bolang juga menyebut, tindakan penganiayaan itu tidak seharusnya terjadi. “Karena di KUHAP itu memang polisi punya beberapa wewenang seperti penyelidikan dan penyidikan. Tapi tidak ada undang-undang (yang memperbolehkan) untuk memukul. Silahkan melakukan razia, itu tugasnya, tetapi prosedurnya kan sudah ada,” ungkapnya.

“Apalagi yang dipukul itu bukan pemilik warung yang menjual tuak, melainkan pekerjanya saja disitu,” sambungnya.

Albert Bolang menyampaikan, dari data yang didapatkan, korban besar kemungkinannya adalah salah sasaran. “Kami belum bisa pastikan berapa yang terlapor, tapi bisa disebutkan di atas lima orang,” sebutnya.

Penasehat hukum lainnya, Yosep Temorubun menambahkan, proses penangkapan di lapangan, sebaiknya tidak dilakukan dengan kekerasan. “Harus secara manusiawi. Meskipun pelakunya salah, harus manusiawi saat diamankan. Jangan menggunakan gaya-gaya koboi,” tutupnya. (dcx)