oleh

Inflasi di Mimika Tertinggi se Sulampua

TIMIKA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika menyatakan Inflasi Timika pada Mei 2020 mencapai 0,90 persen. Hasil ini menempatkan Kabupaten Mimika pada posisi tertinggi angka inflasi di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) yang terdiri dari 21 Kabupaten/Kota. Posisi terendah yakni Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah yang mengalami deflasi -0,39 persen.

BPS Kabupaten Mimika, Ir Trisno L Tamanampo kepada Radar Timika, Rabu (3/6) kemarin menjelaskan, Inflasi di Timika terjadi karena adanya penambahan harga yang ditunjukkan dengan perubahan indeks pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,58 persen dengan mempunyai andil sebesar 0,71 persen. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 1,19 persen dengan mempunyai andil sebesar 0,17 persen. Kelompok perawatan pribadi dan lasa Lainnya yang mengalami inflasi sebesar 0,41 persen dengan mempunyai andil sebesar 0,02 persen. Sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar -0,01 persen dengan mempunyai andil sebesar -0,00 persen.

Trisno Tamanampo menyebut, faktor pendorong terjadinya Inflasi di Timika dilihat dari penambahan harga yang signifikan pada beberapa komoditas makanan, yakni sawi hijau, cabai rawit, kangkung, gula pasir, ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso, ikan cakalang/ikan sisik, bahan bakar rumah tangga, bawang merah, tomat dan daging sapi.

Perhitungan yang digunakan adalah penghitungan dan tahun dasar baru tahun 2018 (2018 = 100) hasil SBH 2018, di Timika pada Mei 2020 terjadi Inflasi sebesar 0,90 persen atau terjadi penambahan angka IHK dari 103,53 pada April 2020 menjadi 104,46 pada Mei 2020. Dengan angka inflasi tersebut, maka laju inflasi Timika tahun kalender Mei 2020 terhadap Desember 2019 mencapai 1,50 persen dan laju inflasi year on year (Mei 2020 terhadap Mei 2019) mencapai 2,53 persen.

“Pada bulan sebelumnya Timika mengalami inflasi sebesar 0,72 persen dan itu juga terjadi karena adanya penambahan atau peningkatan harga yang ditunjukkan oleh pada indeks harga konsumen kelompok makanan, minuman dan juga tembako karena memang harga komoditi terus mengalami perubahan dan paling sering meningkat,” tutupnya. (ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *