oleh

Lestarikan Budaya Papua, Bupati Puncak Sponsori Grup Akustik Konak Papua

JAYAPURA – Tradisi dan jati diri budaya asli Tanah Papua saat ini mulai punah dengan perkembangan teknologi dan modernisasi, salah satunya adalah bahasa ibu. Untuk itu, salah satu grup anak-anak muda Papua yang tergabung dalam Akusitik Konak Papua, hadir untuk mencoba kembali mengangkat bahasa ibu melalui lantunan-lantuan bahasa daerah. Kini mereka pun mendapat salah satu sponsor dari Bupati Puncak, Willem Wandik, SE MSi, yang bersedia mensponsori grup ini agar tetap eksis, dengan memberikan bantuan fasilitas alat-alat musik, gitar dan speaker dan beberapa fasilitas konser lainnya.

Hal ini terungkap dalam konser seni yang dilakukan di kediaman Bupati Puncak, Cigombong Kotaraja, Selasa (16/6) malam.

Dalam penyerahan alat tersebut, juga diselingi dengan penampilan grup Akustik Konak Papua, dengan beberapa lantunan lagu-lagu daerah asli Papua, seperti dari Mambesak, dan lagu-lagu daerah lainnya dalam suasana yang begitu akrab.

Bupati Puncak, Willem Wandik, memberikan apresiasinya atas berdirinya grup Akustik Konak Papua ini, dalam rangka mengangkat dan melestarikan budaya asli Papua melalui lagu. Karena bahasa ibu kini mulai punah, padahal bahasa ibu merupakan kekayaan dan jati diri orang asli Papua.

Ia berharap dengan hadirnya Grup Akustik Konak Papua ini, bisa kembali mengangkat dan melestarikan budaya Papua, terutama melalui lagu-lagu daerah, sehingga ketika personil Akustik Konak Papua ini menyampaikan kebutuhan dan kekurangan yang mereka hadapi terkait dengan akan alat-alat musik, maka dirinya pun bersedia membantu dan siap mensponsori kegiatan dari grup ini, dengan satu tujuan adalah mempertahankan jati diri manusia dan alam Papua.

“Motivasi saya memberikan bantuan dan siap menjadi pembina grup ini, karena saya melihat bahwa grup akustik bicara soal lagu budaya, sosial budaya, bahasa, alam, serta mensosialisakan tentang bahasa ibu dalam lagu. Sehingga lagu menjadi cerita untuk generasi muda, apalagi saat ini bahasa ibu sudah mulai punah, namun dengan hadirnya lagu-lagu daerah, anak-anak kita bisa tahu bahasa ibu dan bapak nya,” ujarnya.

“Bagi saya lagu akustik ini juga menceritakan pesan perdamaian, menceritakan kekayaan alam, menceritakan kekayaan sosial budaya soal Papua, kekayaan-kekayaan kita yang berbeda-beda ini, merupakan kekayaan nasional, sehingga mari kita bersama-sama menjaga budaya kita ini, banyak cerita tentang Papua, perlu kita jaga dan lestarikan lewat lagu,” tambahnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *