oleh

Puncak Musim Hujan di Mimika Terjadi Bulan Depan

“Kalau bulan ini terjadi pagi atau siang atau malam atau subuh, nanti (Bulan Juli) akan terjadi sepanjang hari, tetapi tidak lebat,” tutur Dwi.

TIMIKA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mimika memperkirakan puncak musim hujan yang sudah mulai terjadi sejak Mei 2020, akan terjadi pada Bulan Juli mendatang. Curah hujan yang berada pada posisi 661,0 milimeter sejak Bulan Mei, diperkirakan meningkat jadi 672,2 milimeter pada Bulan Juli.

Menurut prakirawan BMKG Mimika, Dwi Christanto kepada Radar Timika, Kamis (18/6) kemarin mengatakan, tingginya curah hujan di Mimika pada musim ini terjadi karena Madden Julian Oscilation (MJO) yang merupakan kondisi atmosfir di wilayah Samudera Hindia dan terus bergerak seperti udara dari tekanan tinggi ke tekanan rendah yang bisa membawa uap air yang menyebabkan musim hujan dan juga udara kering yang menyebabkan musim kemarau, ini akan mulai masuk ke Indonesia pada bulan Juli mendatang.

“MJO ini skala global yang mempengaruhi suatu wilayah. Sebetulnya untuk saat ini kondisi di Timika masih normal karena MJO-nya masih di di Samudera Hindia, belum masuk di Indonesia,” kata Dwi.

Sementara berdasarkan Southern Oscillation Index (SOI) atau Indeks Osilasi Selatan pada bulan ini masih cenderung ke atas. Artinya bahwa ada kemungkinan besar akan ada La Nina yakni udara dari Hawai menuju ke Indonesia membawa uap air. Indeks ini pun juga menunjukkan bahwa bulan ini Timika masih berada pada posisi normal dan puncak musim hujan akan terjadi Bulan Juli dimana hujan akan terjadi sepanjang hari dengan intensitas rendah.

“Kalau bulan ini terjadi pagi atau siang atau malam atau subuh, nanti akan terjadi sepanjang hari tetapi tidak lebat,” tutur Dwi.

Dengan perkiraan puncak hujan pada Juli nanti, Dwi mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati, khususnya pada lokasi-lokasi yang rawan banjir, para petani untuk mencari bibit yang pas dan juga para pekerja proyek agar lebih memperhitungkan pekerjaannya. Pasalnya musim hujan diprediski akan berlangsung sampai Agustus atau minggu pertama pada bulan September 2020.

Ia mengatakan cuaca di Timika memang sulit diprediksi berbeda dengan daerah-daerah lain pada umumnya yang ada di Indonesia. Timika lanjut Dwi, merupakan daerah dengan curah hujan tinggi dimana rata-rat setiap tahunnya curah hujan paling rendah ada pada posisi 300 milimeter dan khusus di mile poin 50 merupakan daerah yang dikategorikan basah karena selalu ada hujan setiap harinya.

“Jadi saya pun sudah pernah kesana dan memang disana itu tidak terlihat matahari. Hujan terus disana,” tutupnya. (ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *