oleh

Polisi Musnahkan 3.261 Liter Miras

“Pidananya cukup berat, apalagi bisa dibuktikan kalau akibat miras ini mengakibatkan kematian dan sebagainya,” tegas Kapolda.

 

TIMIKA – Kepolisian Resor (Polres) Mimika, Senin (22/6) kemarin memusnahkan ribuan liter minuman keras tradisional lokal (Milo) yang berhasil disita dari tujuh tersangka.

Pemusnahan milo jenis sopi itu berlangsung di halaman kantor Pelayanan Polres Mimika dan dipimpin langsung Kapolda Papua, Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw yang didampingi Kabidkum Polda Papua, AKBP Guntur Agung Supono, Kapolres Mimika, AKBP I Gusti Gde Era Adhinata, SIK dan dihadiri oleh Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob serta Ketua FKUB Kabupaten Mimika, Ignatius Adii dan Sekretaris FKUB, Pdt Jefri Hutagalung.

Kapolda mengatakan barang bukti milo merupakan hasil razia yang dilaksanakan jajaran Polres Mimika terhitung sejak Bulan Mei hingga Juni 2020. “Kemarin (Minggu, Red) saya sendiri yang turun langsung untuk pimpin razia milo di sepanjang sungai Wania, Distrik Mimik Timur,” ujarnya.

Lebih lanjut kata Kapolda bahwa jumlah total keseluruhan barang bukti miras tradisional yang berhasil diamankan jajaran kepolisian, baik itu Polsek KP3 Kawasan Pelabuhan Pomako, Polsek Mimika Timur, Polsek Mimika Baru, dan Satresnarkoba Polres Mimika sendiri sejak Bulan Mei hingga Bulan Juni ini berjumlah 6.061 liter.

Namun yang dimusnahkan Senin kemarin berjumlah 3.261 liter, sementara sisanya 2800 liter telah dimusnahkan di lokasi penyulingan.

“Lokasinya sangat tertutup, mereka menyeberang sungai dulu, lalu kemudian masuk lagi ke tengah hutan. Makanya hasil operasi yang di hutan Mapurujaya itu sebagian sudah kita musnahkan di TKP karena medannya yang cukup sulit,” ucap Irjen Waterpauw.

Kemudian Kapolda mengungkapkan bahwa tujuh orang tersangka kasus kepemilikan milo itu sendiri, dipersangkakan dengan tindak pidana kejahatan yang mendatangkan bahaya bagi keamanan umum manusia atau barang, kemudian tindak pidana perlindungan konsumen, dan tindak pidana pangan. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204, Ayat (1) KUHPidana, dan atau Pasal 62, Ayat (1) juncto Pasal 8, ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 08 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan Pasal 140 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, dengan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun.

“Pidananya cukup berat, apalagi bisa dibuktikan kalau akibat miras ini mengakibatkan kematian dan sebagainya,” tegas Kapolda.

Dalam kesempatan itu juga, Kapolda menegaskan terkait dengan miras yang pabrikan, pihak kepolisian tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan penegakan hukum. Pasalnya semua sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Daerah (Perda).

“Produksi miras yang pabrikan semua sudah diatur, tata niaganya mulai dari produksi sampai peredaran itu semua sudah diatur. Kami hanya bisa melakukan upaya lebih dari itu, karena semua sudah ada ketentuannya,” ungkap Irjen Waterpauw.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Mimika menyampaikan Pemerintah Daerah Mimika sangat memberikan apresiasi terhadap kinerja kepolisian dalam hal ini Polres Mimika dalam pemberantasan miras tradisional di Kabupaten Mimika.

“Kami sampaikan terima kasih kepada jajaran Polres Mimika, dan kalau ada informasi apa saja kami selalu komunikasi dengan pak Kapolres untuk ditindaklanjuti, khususnya yang berkaitan dengan Kamtibmas,” kata Wakil Bupati.

Wabup menegaskan bahwa tindakan kriminal yang selama ini terjadi di Kabupaten Mimika, salah satu penyebab utamanya adalah miras.

“Kejadian kriminalitas, kecelakaan lalu lintas dan sebagainya semua itu saya rasa 90 persen itu berawal dari miras. Untuk itu miras ini jadi tanggungjawab bersama untuk kita basmi, karena miras ini ibarat sampah yang sering menimbulkan penyakit,” tegasnya.

Sementara itu Kapolres Mimika juga menjelaskan bahwa proses pembuatan hingga penyulingan milo jenis sopi, sangatlah tidak higienis. “Saya yakinkan kalau yang peminum lihat cara buatnya pasti akan minum tapi langsung muntah, airnya dari kubangan, tong airnya berisi lumpur untuk di fermentasi. Dan jika fermentasinya pakai air bersih, maka tidak akan jadi, karena fermentasi itu butuh bakteri. Yang parahnya lagi, salah satu TKP itu dibelakang kuburan yang banyak air bakteri,” urai AKBP Era.

Untuk proses pemusnahan sendiri dilakukan dengan cara menumpahkan barang bukti milo ke dalam parit yang berada di halaman kantor Pelayanan Polres Mimika. (tns)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *