oleh

Mimika Siaga Banjir

Mengantisipasi Dampak Meningkatnya Curah Hujan

TIMIKA – Curah hujan yang cukup tinggi beberapa waktu belakangan menyebabkan Timika dinyatakan siaga banjir. Untuk mengantisipasi meluapnya air yang menyebabkan banjir, Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mimika menyiagakan 30 personel yang dibagi menjadi tiga tim.

Sekretaris BPBD, Lefinus Siahaya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (1/7) mengatakan, sejak pagi kemarin, TRC telah melakukan pemantauan di tiga sungai besar yang ada di seputaran kota Timika. Ke-30 personel TRC dibagi menjadi tiga kelompok. Di mana, masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang yang memantau kondisi terkini di tiga sungai besar tersebut.

Genangan air yang memenuhi halaman rumah salah seorang warga.

Pemantauan debit air di tiga sungai besar yakni Kali Iwaka, Bhintuka dan Wania terus dilakukan oleh TRC BPBD. Berdasarkan laporan langsung dari para kepala distrik, TRC langsung turun ke lokasi sungai untuk memastikan apakah debit air ini sampai menyebabkan banjir.

“Untuk kali Mayon itu kita waspada, sedangkan kali Wania dan Bhintuka sudah ditetapkan statusnya yakni waspada, cuaca kan sekarang cukup ekstrim, jadi masyarakat harus jaga lingkunganya masing-masing,” ujar.

Dikatakan Lefinus, peran dari para Ketua RT juga sangat penting untuk mengerahkan warganya agar bergotong royong membersihkan saluran air di drainase maupun membersihkan sampah-sampah yang masih tergenang.

Lanjutnya, salah satu penyebab banjir yang paling sering terjadi adalah dikarenakan adanya penyumbatan drainase maupun sungai akibat dari penumpukan sampah.

Walaupun telah menetapkan status siaga banjir, namun sampai Pukul sore kemarin, belum dilaporkan adanya korban kebanjiran. Debit air di tiga sungai tadi sebutnya, juga belum menyebabkan adanya banjir yang sampai menggenangi perumahan masyarakat. Banjir baru sebatas depan perumahan. Namun, TRC tetap siap siaga untuk mengantisipasi adanya banjir.

“Belum ada korban, tapi tim kami tetap siap siaga,” tegasnya.

Ditambahkanya, untuk kondisi terakhir yang dilaporkan oleh tim, karena curah hujan menurun, maka debit air juga turun. Jika sampai malam curah hujan turun, maka diharapkan tidak terjadi banjir.

Sebelumnya, prakirawan BMKG Mimika, Dwi Christanto saat ditemui Radar Timika mengatakan, tingginya curah hujan di Mimika pada akhir-akhir ini terjadi karena Madden Julian Oscilation (MJO) yang merupakan kondisi atmosfir di wilayah Samudera Hindia dan terus bergerak seperti udara dari tekanan tinggi ke tekanan rendah yang bisa membawa uap air yang menyebabkan musim hujan dan juga udara kering yang menyebabkan musim kemarau, ini akan mulai masuk ke Indonesia pada bulan Juli mendatang.

Sehingga diperkirakan puncak musim hujan yang sudah mulai terjadi sejak Mei 2020, akan terjadi pada bulan Juli. Curah hujan yang berada pada posisi 661,0 milimeter sejak Bulan Mei, diperkirakan meningkat jadi 672,2 milimeter pada Bulan Juli.

Sementara berdasarkan Southern Oscillation Index (SOI) atau Indeks Osilasi Selatan pada bulan ini masih cenderung ke atas. Artinya bahwa ada kemungkinan besar akan ada La Nina yakni udara dari Hawai menuju ke Indonesia membawa uap air. Indeks ini pun juga menunjukkan bahwa bulan ini Timika masih berada pada posisi normal dan puncak musim hujan akan terjadi Bulan Juli dimana hujan akan terjadi sepanjang hari dengan intensitas rendah. (ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *