oleh

Dinkes Bentuk Pokja Media Berantas Malaria

TIMIKA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Media dalam rangka memberantas penyakit malaria di Mimika. Pokja tersebut bertugas mengkampanyekan program pemerintah dalam menurunkan angka kesakitan malaria di Mimika. Kegiatan berlangsung di ruang pertemuan Hotel Grand Tembaga, Sabtu (4/7).

Dalam acara ini, terpilih secara aklamasi Ketua Pokja, Mauritsius Sadipun. Kepala Dinkes Mimika, Reynold Ubra dalam kesempatan tersebut mengatakan, malaria sama-sama endemi seperti virus corona. Kesamaan dua penyakit ini sama-sama memiliki Orang Tanpa Gejala (OTG). Dari data yang ada, 60 persen penderita malaria tanpa gejala teknis, adalah sumber penularan aktif.

Dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh malaria juga cukup besar, yakni mencapai kurang lebih Rp 100 miliar per tahun. Belum termasuk nilai penggunaan obat dan fasilitas layanan kesehatan. Kerugian kedua, ancaman terhadap penurunan kualitas SDM.

“Kesakitan pada bayi, Balita dan anak sekolah menyebabkan gangguan pertumbuhan otak, rendahnya tingkat kecerdasan,” ujarnya.

Karena itu, untuk menurunkan angkat malaria di Mimika, diperlukan upaya-upaya yang selama ini telah dilakukan Dinas Kesehatan. Selain itu, juga diperlukan kerja sama dengan lintas sektor yang selama ini telah terjalin. Salah satu yang akan diperkuat adalah kerja sama dengan berbagai media yang ada di Mimika. Baik media cetak maupun elektronik.

Melalui Pokja ini, akan dilakukan kampanye pemberantasan malaria secara massive melalui media-media yang ada. Kampanye-kampanye tersebut terus digaungkan agar masyarakat semakin sadar untuk menjaga diri sehingga tidak terserang malaria.

“Sebab 60 persen kasus malaria adalah relaps atau kambuh. Karena itu kampanye dimulai dengan kapatuhan minum obat,” ujar Ubra.

Melalui Pokja tersebut, lanjutnya, malaria akan didorong agar menjadi isu daerah. Jika perlu dilakukan juga konferensi pers rutin untuk menyampaikan kepada publik mengenai jumlah kasus malaria yang terjadi.

“Bisa kita lakukan konferensi pers seperti Covid. Mungkin sebulan sekali atau lebih,” ujarnya.

Dalam rapat tersebut juga disepakati mengenai bentuk kampanye yang akan dilakukan. Mulai dari informasi jumlah kasus, kampanye cara menghindari agar tidak terkena malaria, hingga soal kepatuhan minum obat bagi pasien.

“Memang di tahun ini tidak ada kematian akibat malaria. Tapi malaria bisa mematikan jika terlambat diobati. Namun soal data penderita jelas malaria lebih banyak dari Covid. Tahun ini hingga Mei jumlah orang yang terjangkit malaria sudah mencapai 21.961 kasus. Karena itu kita perlukan peran semua pihak untuk terus mengkampanyekan pemberantasan malaria, salah satunya melalui Pokja Media ini,” tukasnya.

Adapun rapat yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIT berakhir pukul 13.00 WIT. Rapat dilakukan dengan protokol kesehatan, yakni semua peserta menggunakan masker, dites suhu tubuh serta menjaga jarak. (ale)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *