oleh

Pemda Distribusikan Bantuan ke Tsinga dan Aroanop

TIMIKA – Beberapa wilayah di Kabupaten Mimika mengalami musibah bencana alam. Mulai dari banjir yang merendam enam kampung di 4 distrik dan terakhir bencana longsor di Kampung Aroanop dan Tsinga, Distrik Tembagapura.

Plt Sekda Mimika, Nicolaas Kuahaty ketika memimpin apel pagi di Kantor Pusat Pemerintahan, Senin (3/8) kemarin mengatakan intensitas hujan yang cukup tinggi di wilayah Mimika akhir-akhir ini menyebabkan beberapa wilayah mengalami bencana.

Pemda Mimika kata dia sudah mengambil langkah kedaduratan bahkan Bupati Mimika, Eltinus Omaleng, SE MH sudah menyatakan itu sebagai bencana alam sehingga perlu penanganan yang sifatnya darurat.

Untuk wilayah terdampak banjir di Kampung Kamora Gunung, Distrik Kuala Kencana kemudian warga Kampung Iwaka termasuk di PT PAL, hingga Kampung Mioko, Aikawapuka dan Kiura, Pemda sudah mengambil langkah darurat dengan menyalurkan bantuan secara bertahap.

Demikian halnya untuk Aroanop dan Tsinga yang mengalami longsor, Nicky sapaan akrab Nicolaas menyatakan belum ada laporan lengkap tapi tim sudah menuju lokasi kejadian untuk mendistribusikan bantuan sekaligus inventarisir dampak yang ditimbulkan.

Terkait banjir di Jalan Trans Nabire, tim sudah melakukan inventarisir. Secara keseluruhan ada 2.613 jiwa yang terdampak. Puluhan rumah rusak berat, satu rumah hilang tersapu air dan satu gedung gereja rusah berat. Bahkan jalan terputus.

Pemda bersama instansi terkait sudah melakukan koordinasi dan penanganan dilakukan secara terpadu. Untuk fungsional Jalan Trans Nabire dipimpin Dinas PUPR Mimika dan melibatkan Satker Pelaksana Jalan Nasional Timika. Dikatakan Nicky, situasi di lokasi jalan yang terputus berangsur pulih dan kendaraan sudah bisa melintas.

Nicky juga mengungkapkan bahwa Pemda melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah akan melakukan studi terhadap kawasan untuk mengukur dampak kerusakan. Serta mencari tahu penyebab banjir. Meskipun itu adalah bencana alam tapi diyakini ada penyebabnya. “Apakah karena kawasan itu sudah banyak yang gundul ataukah memang merupakan limpasan debit maksimum Q50 atau Q100. Jadi kejadian itu merupakan fenomena alam yang terjadi berulang,” paparnya. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *