oleh

KB Bukan Batasi Kelahiran, Namun Lebih Pada Menyiapkan Masa Depan Anak

ILAGA – Pemahaman masyarakat terutama mama-mama asli di Kabupaten Puncak terkait dengan Program Keluarga Berencana (KB), nampaknya masih minim. Pasalnya mereka berpikir bahwa KB hanya membatasi anak. Padahal lebih dari itu, KB merupakan program pemerintah untuk mewujudkan keluarga yang terencana, terutama masa depan anak yang sehat dan berkualitas.

Demikian hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Keluarga Berencana (KB) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan dan Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana Kabupaten Puncak, Ny Elpina K Wandik, SKM saat melakukan sosialisasi Keluarga Berencana di tiga kampung, masing-masing di Kampung Eromaga Distrik Omukia, Kampung Kago dan Kampung Kimak Distrik Ilaga, Kamis (20/8).

“Dari sosialisasi yang kami laksanakan di tiga kampung, rata-rata pemahaman soal KB masih minim. Mereka hanya berpikir KB hanya untuk membatasi anak. Bahkan membuat kandungan kering. Padahal tidak seperti itu. Sebab jika kita ikuti secara baik, KB secara baik, maka kesehatan kandungan ibu dan anak akan baik. Kita bisa mengatur gizi dan masa depan anak kita,” ujarnya.

Lanjut Elpina Wandik, melalui program KB dimana suami dan istri bisa bersama-sama mengatur jarak kelahiran, bukan membatasi anak. Mau dapat anak banyak semua bisa, yang penting menjaga jarak, memberikan kesehatan kepada kandungan ibu. Sehingga ibu bisa sehat, juga memiliki kesempatan untuk membesarkan anaknya dengan air susu ibu. Dengan kandungan ibu sehat, maka ibu bisa mendapatkan anak sesuai dengan kemauan suami dan istri.

“Sehingga anak itu tumbuh dan besar dalam asuhan ibu, minum Asi dari ibu, sehingga anak itu bisa tumbuh dengan kesehatan yang baik, cerdas, karena asupan gizi yang baik. Ia (anak) akan tumbuh menjadi anak yang pintar dan mampu bersaing dengan anak-anak yang lain di daerah lain,” tambahnya.

Kata istri dari Bupati Puncak ini, kondisi di Kabupaten Puncak, dimana sebagian mama-mama asli setempat lebih mengenal alat kontrasepsi secara alami, misalnya dengan makan daun, kadang daun tersebut disimpan di honai. Ketika honai itu ikut terbakar, maka daun tradisonal tersebut juga ikut terbakar. Dampaknya adalah ibu tersebut susah mendapatkan keturunan. Kata Elpina Wandik, data ini dibuktikan dengan laporan dari petugas Puskesmas di Kabupaten Puncak, bahwa di Puskemas rata-rata ibu di Kabupaten Puncak tidak ada yang mengikuti KB.

“Jika menggunakan KB tradisional seperti minum daun, dampaknya adalah ibu-ibu ketika daun itu terbakar, maka susah lagi dapat anak. Berbeda dengan KB dari pemerintah, dimana hanya mengatur jarak, mau dapat anak 10 ka, bisa saja. Pemahaman ini yang ingin kita jelaskan, bahwa melalui program KB akan sangat membantu mama-mama kita ini. Mereka bisa dapat anak lagi, termasuk kesehatan juga terjamin,” jelasnya.

Lanjut Elpina Wandik, karena pemahaman mereka soal KB masih minim, maka pihaknya kedepan akan tetap melakukan sosialisasi, guna memberikan pemahaman kepada masyarakat Puncak bahwa KB bukan membatasi anak, namun untuk mengatur jarak kelahiran. Sehingga kesehatan ibu terjamin, anak juga sehat, bisa mampu mengurangi kematian ibu dan anak karena faktor kelahiran.(diskominfo puncak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *