oleh

Di Tengah Modernisasi, Warga Barru Masih Pertahankan Tradisi 10 Muharram

TIMIKA – Banyak cara dan tradisi yang dilakukan oleh berbagai suku yang ada di Indonesia untuk memperingati datangan 10 Muharram 1442 Hijriyah. Di tengah modernisasi, ternyata warga Barru-Sulawesi Selatan di Timika masih mempertahankan tradisi peringatan 10 Muharram dengan menyediakan bubur Asyura.

Pembina Kerukunan Keluarga Daerah Barru Kabupaten Mimika, Hj Hasni kepada Radar Timika, Minggu (30/8) mengatakan kuliner yang tak pernah lepas dari Perayaan Tahun Baru Islam apalagi saat memasuki 10 Muharram adalah Peca’ Sura.

Tradisi bubur asyura sebutnya, masih dilakukan oleh warga Barru, Sulsel yang selalu menyambut kedatangan bulan Muharram dengan membuat bubur Asyura atau yang biasa disebut Peca’ Sura saat memasuki 10 Muharram.

Lanjut Hasni, tradisi menyambut 10 Muharram yang telah dilakukan secara turun-temurun selama berabad-abad ini, tetap dipertahankan walaupun di tengah perkembangan zaman yang modern seperti saat ini.

“Kami tetap pertahankan tradisi yang sudah turun temurun ini untuk menyambut 10 Muharram dengan pembuatan bubur peca’sura,” ujar Hasni.

Tradisi ini sebutnya, sudah dijalani turun-temurun, untuk memperingati perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan syiar Islam.

Peca’ Sura ini juga dimasak untuk menu berbuka puasa Asyura di mana bubur akan disajikan sebagai salah satu menu spesial, puasa di hari ke-10 bulan Muharram, dipercaya dapat menghapuskan dosa selama setahun penuh.

Berbeda dengan bubur biasa pada umumnya, Peca’ Sura ini beraneka ragam lauk-pauk dengan dihiasi telur dadar warna warni, tumpi-tumpi (ikan yang dihaluskan dicampur dengan kelapa), ditambah udang, perkedel, kentang, dan buah-buahan.(ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *