oleh

80 Persen Pasien Covid-19 Adalah laki-Laki

Dimasa new normal tahap keempat, kasus Covid-19 di Mimika terus bertambah, dimana hingga Selasa, 1 September 2020, pasien yang terkonfirmasi positif atau juga yang disebut kasus aktif ada 118 orang. Mereka menjalani masa perawatan di RSUD sebanyak 48 orang dan 70 lainnya di RS Tembagapura.

Penambahan kasus pada tahap ini terjadi dari pelaku perjalanan yang datang dari Jayapura dan Jakarta seperti yang saat ini terjadi di Porsite saat ini yakni tiga orang pelaku perjalanan yang pulang cuti dari Jakarta yang pada saat melakukan pemeriksaan pertama hasilnya negatif. Tapi di hari keempat masa karantina ketiganya kembali diperiksa, satu diantaranya positif dan yang dua diperbolehkan bekerja karena negatif namun tetap dalam masa pemantauan.

“Pada hari ke 14 dipantau di swab lagi ternyata keduanya positif dan akhirnya berkembang menjadi transmisi lokal. Namun kami tidak terlalu khawatir karena dalam dua bulan terakhir angka reproduksi efektif kita tidak lebih dari dua,” kata Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra saat ditemui di Hotel Grand Tembaga, Rabu (2/9).

Pendeteksian kasus ini semakin lama semakin meningkat dengan melihat real time PCR yang diperiksa. Kalau di RS Tembagapura bisa mencapai hampir 400 dan RSUD lebih dari 200. Setiap pemeriksaan dalam dua minggu kurang dari lima, sehingga Reynold mengatakan jika new normal masih tetap bisa dilakukan.

New normal dilakukan supaya tidak terjadi kontraksi ekonomi. Masyararakat secara mandiri bisa memenuhi kebutuhan ekonominya demikian pula roda ekonomi secara makro. Penerapan new normal di Mimika menjadi penting, tetapi harus tetap menerapkan protokol kesehatan seperti tetap menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Bila perlu tetap tinggal dalam rumah, terutama bagi penduduk yang rentan seperti lansia.

Ia menerangkan pada kasus ini jumlah orang yang terinfeksi 80 persen lebih adalah laki-laki terutama para usia produktif.

“Kami berpikir laki-laki terutama yang usia produktif lebih berhati-hati supaya jangan menularkan itu ke rumah. Karena mulai kasus ini ada di Timika, pola penularannya terjadi dari kerumunan atau banyak orang kemudian sampai ke rumah,” katanya.

Belakangan ini yakni pada masa new normal ketiga dan keempat, pola penularan dari individu kemudian sampai ke rumah bahkan di komunitas. Oleh karena itu, siapapun orang di dekat kita, kita harus tetap waspada karena lebih dari 80 persen kasus Covid-19 di Timika, hampir semua pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan pemeriksaan PCR itu tidak menunjukkan gejala.

Kondisi hari ini, Tim Penanggulangan dan Pencegahan Covid-19 kata Reynold sudah menerapkan pedoman tata laksana Covid-19 revisi kelima, dimana pada revisi ini sudah tidak ada istilah ODP, PDP dan OTG, tetapi ODG sudah diganti dengan suspek.

“Jadi satu saja tanda gejala dan memiliki riwayat demam itu dikategorikan suspek. Kalau misalnya ada demam, sesak nafas dan batuk yang dulunya PDP sekarang sudah dikategorikan probable, jadi kemungkinan besar dia adalah Covid-19. Kemudian istilah yang dipakai lagi adalah konfirmasi, yaitu pasien yang positif. Pasien yang positif terbagi menjadi dua yaitu pasien positif Covid dengan gejala dan pasien positif tanpa gejala,” jelasnya.

Lanjutnya, pada revisi 4 bahwa yang disebut pasien sembuh Covid-19 apabila tanpa gejala, kemudian jika berdasarkan hasil pemeriksaan dua kali berturut-turut hasil PCRnya negatif baru bisa dinyatakan selesai isolasi atau sembuh. Sementara, di dalam revisi lima lebih efisien dalam masa perawatan dan juga masalah pengobatan dan pembiayaan, yaitu jika terkonfirmasi positif sampai hari kesepuluh, ditambah sekurang-kurangnya tiga hari tanpa gejala, maka bisa dinyatakan selesai isolasi atau sembuh.

Demikian pula kontak erat, untuk semua kontak erat tidak diisyaratkan melakukan rapid test, tetapi harus melakukan pemeriksaan real time PCR.

Sebenarnya di hari kedelapan, pasien yang tanpa gejala itu juga sudah bisa dikatakan sembuh karena meskipun ada virusnya didalam tubuh dan hasil pemeriksaan swabnya positif tetapi tidak berpotensi untuk menularkan. Ini secara data di Timika hampir sebagaian besar kontak erat dari pasien positif Covid-19 yang punya gejala itu lebih banyak yang positif dibandingkan pasien yang dinyatakan positif real time PCR tapi tanpa gejala.

“Kalau kasus yang di Timika sendiri itu adalah gambaran hasil kontak tracing dari satu kantor, satu rumah dan satu tempat kerja. Nah kalau pasien yang sudah dinyatakan sembuh sesuai dengan kriteri hari yakni sekurang-kurangnya tiga hari berarti sudah dipulangkan kalau sudah tidak ada gejala. Dimasa new normal pasien masih ditanggung pemerintah daerah dan pusat,” tutupnya. (ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *