oleh

Kelurahan Kebun Sirih Penyumbang Kasus Malaria Terbesar

Di Puskesmas Timika

Kasus malaria di Kabupaten Mimika hingga kini masih terus menjadi permasalahan kesehatan yang belum juga bisa dituntaskan. Bahkan hingga saat ini, Mimika masih menjadi kabupaten dengan penyumbang kasus malaria tertinggi di Provinsi Papua.

Di mana kasusnya masih 100 per 1000 penduduk. Hal inilah yang menjadi tantangan besar bagi Dinas Kesehatan Mimika, untuk bisa menurunkan angka ini di tahun-tahun berikutnya.

Khusus di wilayah kerja Puskesmas Timika yang mencakup 6 kelurahan yakni Kwamki Baru, Kebun Sirih, Dingo Narama, Koperapoka, Otomona dan Kampung Nayaro dengan total penduduk  68.582 jiwa.

Kasus terbesarnya terdapat di Kelurahan Kebun Sirih, yang menyumbang 1.494 kasus malaria dengan Annual Paracit Incident (API) 132,98 persen dari jumlah penduduk 11.235 jiwa.

Urutan kedua, yakni Kelurahan Kwamki Baru dengan jumlah kasus malaria 1.292 kasus dengan API 60,98 persen, Kelurahan Koprapoka 352 kasus, Dingo Narama 334 kasus, Kampung Nayaro 282 kasus dan Kelurahan Otomana sebagai penyumbang kasus malaria terendah yakni 185 kasus dari 4.145 penduduk.

Kepala Puskesmas Timika, dr Moses Untung mengatakan dari 3.939 kasus malaria yang terjadi sejak Januari hingga Juli  2020 ini, masih didominasi kasus kambuh, akibat ketidak patuhan minum obat atau minum obat tidak sesuai dosis, di mana ketika dikasih obat empat yang diminum hanya 3. Yang satunya disimpan, dengan alasan dijadikan cadangan ketika malarianya kambuh.

“Ada juga yang minumnya tidak perhatikan jam yah. Artinya tidak efektif padahal seharusnya ini juga yang harus diperhatikan. Patuh itukan patuh dosis dan patut waktu,” katanya.

Sementara untuk kasus baru, timbul karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk memperhatikan kebersihan lingkungan, masih suka duduk atau keluar rumah di atas jam 6 sore, tanpa menggunakan pakaian lengan panjang dan tidak mau menggunakan kelambu.

“Gunakan lotion anti nyamuk juga bagus. Sekarang musim hujan. Lingkungan harus dibersihkan, buang sampah pada tempatnya, hindari adanya genangan air. Karena itu bisa menyebabkan perkembangbiakan nyamuk. Jentiknya itu,” tuturnya.

Menekan kasus malaria di Kabupaten Mimika, sangat membutuhkan kerjasama dari semua pihak, dan bahkan kesadaran diri sendiri.

Sebelumnya di kesempatan yang berbeda, Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra mengatakan eliminasi bisa terjadi dan berhasil, jika masyarakat patuh minum obat karena 70 persen kasus malaria di Mimika adalah kasus kambuh.

Artinya kasus malaria baru hanya 30 persen saja. Tidak duduk di luar rumah pada jam 6 sore sampai jam 6 pagi, gunakan kelambu dan jaga kebersihan lingkungan.

“Nah kembali lagi isu kepatuhan, patuh minum obat sampai tuntas itu menjadi kunci untuk menurunkan malaria,” katanya. (ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *