oleh

Membangun Papua di Atas Sendi Keberagaman (Bagian 2/Habis)

Oleh:Heddy Lugito (Mantan Sekjen SPS)


 Tumbuh dalam Keberagaman

BAGI Indonesia, Papua merupakan wujud kongkrit  dalam perjuangan nasionalisme , kedaulat an, dan sekaligus ketahanan integritas wilayah negara. Pemeruintah  Indonesia selalu menolak segala upaya internasional untuk menengahi masalah Papua karena memang tidak ada masalah di sana yang tidak bisa diselesaikan oleh sesama anak bangsa sendiri. Isu-isu ras tak bisa diterima oleh Indonesia, yang sejak awal kemerdekaannya justeru selalu menentang rasisme di dunia.

Indonesia membangun dirinya di atas sendi-sendi Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman itu anugerah. Justru keragaman etnik dan budaya di Indonesia  akan mengembangkan  Papua sebagai masyarakat yang multikultur sebagaimana wilayah lain di Indonesia.

Pembangunan Papua.  dalam konteks pertahanan nasional, dapat digambarkan sebagai penyediaan sarana untuk penguatan hubungan antar bangsa dalam entitas nasional untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis, adil, setara dan berdiri di atas nilai-nilai keadaban bangsa.

Presiden  Soekarno  secara khusus mendorong  Papua dengan  membangkitkan nasionalisme  dalam berbahasa Indonesia. Secara umum, Bahasa Indonesia  dapat diterima di bagian lain di Indonesia dan kemudian terbukti bisa diterima dengan sama baiknya di Papua. Bahasa Indonesia telah merangkai segala keberagaman itu ke dalam satu kesatuan budaya.

Dalam visi Presiden Soekarno, pembangunan Papua tidak hanya dengan pencapaian target fisik saja, melainkan juga dengan menyelaraskan kehidupan irama pembangunan daerah lain dalam kerangka pembangunan nasional secara menyeluruh. Tak boleh ada yang tertinggal. Kalau ada yang tertinggal perlu didorong melakukan percepatan.

Proses silang budaya pun terjadi di Papua, seperti halnya di seluruh wilayah di Indonesia. Inilah yang menjadi ide dasar pembangunan Papua pada masa Orde Baru, yang gagasan awanya  berangkat  dari Bung Karno. Integrasi pembangunan sumber daya manusia dan pembangunan infrastruktur di masa Presiden Soeharto berjalan baik melalui sentuhan Jawa yang mengedepankan harmoni.

Sentuhan Jawa ini lebih dikenal dengan kebijakan transmigrasi nasional. Kebijakan transmigrasi ini perlu dilihat bukan sebagai upaya “jawanisasi”, tetapi sebagai implementasi ke-bhinekaan dalam bingkai NKRI. Kesadaran akan  keberagaman menjadi hal utama yang coba dikembangkan oleh pemerintah Indonesia melalui program ini.

Adanya campuran masyarakat luar akan memperkuat rasa kebangsaan dan nasionalisme yang ada pada masyarakat adat. Pertautan budaya dalam harmoni akan mendekatkan jarak budaya. Dalam konteks ini, Pemerintah Indonesia melaksanakan program transmigrasi Papua sebagai upaya mendorong percepatan pembangunan  dalam dimensi yang luas secara berkelanjutan.

Melalui program transmigrasi ini, pemerintah menawarkan kepada masyarakat Papuajalan  alternatif di bidang budidaya pertanian, perkebunan, dan perikanan yang sudah dijalankan lama di Pulau Jawa sejak jaman penjajahan Belanda. Tak ada  maksud untuk dominasi. Begitu halnya arus migrasi swadaya yang terjadi belakangan itu berguna untuk melengkapi struktur sosial yang terus berkembang.

Semuanya memberi jalan untuk pross asimilasi dan sekaligus   proses pembentukan karakter Pancasila pada masyarakat Papua. Bersatu dalam keberagaman, dengan menghormati kehadiran masing-masing sesuai hukum dan norma sosial yang ada. Sentuhan dan pendekatan sosial  ini menjadi pelengkap bagi capaian fisik yang selama setengah abad ini terus digencarkan di Papua.

Pendekatan ini diyakini akan memberikan hasil yang konstruktif. Jadi, pembangunan fisik itu seiring dan sejalan dengan proses sosial. Letupan sosial tentu ada, dan situasi itu sering diamplifikasi oleh kelompok tertentu untuk  menjadikannya energi disintegrasi. Jelas, Papua masih menjadi area berbagai kelompok kepentingan bermain, dari luar maupun dalam negeri.

Namun, ke depan membangun Papua, mendorong masyarakatnya untuk berinteraksi secara alamiah di dalam kancah silang budaya nasional, adalah keniscayaan yang tak bisa dielakkan. Proses silang budaya untuk membangun ikatan keberagaman-nasionalistik adalah kebutuhan yang esensial untuk memasuki peradapan dunia yang semakin terbuka.

Membangun semangat masyarakat  Papua untuk hidup berdampingan dengan sesama anak bangsa itu  menambah energi penggerak untuk mencapai kemajuan. Proses itu telah terbukti.  Presiden Soeharto mengambil  pendekatan kesejahteraan yang berkeadilan,  dengan membangun jalan Sentani-Genyem, yang langsung dirasakan manfaatnya untuk mempercepat perekonomian. Jalan raya itu bukan sarana fisik semata, juga menjadi jalur silang budaya/

Dalam rencana pembangunan lima tahun (Repelita) tahap III, Presiden Soeharto memasukkan program pembangunan jalan antara Wamena dan Nabire. Selain itu, Presiden Soeharto mengambil pendekatan keamanan yang sangat lunak dalam aspek politik Papua. Putra Papua dengan latar belakang militer dan PNS didorong memimpin Papua pada berbagai level.

Pendekatan pembinaan  keberagaman dalam harmoni seperti ini dapat memberikan hasil nyata secara sosial dan ekonomi.  Capaian itu sekaligus bisa mereduksi gerakan separatis, baik yang berupa gerakan bersenjata maupun politik. Faktanya gerakan separatis itu kini kian melemah, termasuk yang  di forum internasional. Kereberagam yang tumbuh harmonis di Papua bukan utopia.

Fakta ini membuat dunia internasional tak punya alasan untuk meragukan bahwa kepada pemerintah Indonesia mampu melindungi hak-hak  dasar rakyat di Papua. Tidak ada diskriminasi apalagi kebijakan yang rasialis. Pembangunan dengan  identitas keberagaman menjadi kata kunci dalam memperkuat masyarakat Papua dalam  ikatan kebangsaan, dan hal tersebut sudah berjalan. Roda pembangunan berputar seirama dengan nafas keberagaman.

Keberagaman itu  kondisi obyektif yang secara konseptual dapat  dikembangkan untuk memperkuat nasionalisme Indonesia di Papua. Memenangkan  hati dan pikiran masyarakat  Papua adalah strategi penting dalam pelaksanaannya. Strategi itu akan membentuk rasa percaya masyarakat Papua kepada  Pemerintah Indonesia.

Saling percaya dalam keberagaman adalah kata kunci ketika bangsa ini memperjuangkan kemerdekaan dulu. Kita dapat menerapkannya kembali untuk membangun Papua. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *