oleh

Belajar Online Sebuah Kemajuan atau Kemunduran?? (Bagian 1)

Oleh: Melkias Maspaitella, SE (Penulis tinggal di Timika)


SCIENCE & TECHNOLOGY REVOLUTIONIZED OUR LIVES BUT, MEMORY, TRADITION AND MYTH  FRAME OUR RESPONSE (Sains dan teknologi merevolusi kehidupan kita, tetapi kenangan, tradisi dan mitos membentuk response kita)-ARTHUR M.SCHLESINGER).

Ungkapan di atas nampaknya sangat relevant dengan kehidupan kekinian, sebab teknologi telah merevolusi seluruh kehidupan manusia, namun sayangnya terkadang kita lamban meresponinya karena masih terperangkap dalam tradisi, mitos dan kenangan masa lalu. Hal ini nampak jelas dari kebiasaan menjalankan kegiatan belajar mengajar secara langsung (face to face), termasuk bisnis konvensional masih dianggap lebih tepat daripada dilakukan secara on-line. Walaupun fakta menunjukan bisnis konvensional sudah jauh tertinggal dibandingkan dengan bisnis  on-line dalam hal kecepatan, profit, efisiensi, dsb. Ancaman pandemic  virus Corona-19 yang memporak-porandakan sendi sendi kehidupan manusia yang  tidak dapat diprediksi (unpredictable) menyebabkan berbagai aktivitas harus ditata ulang mengikuti tatanan the new normal (adaptasi kebiasaan baru) dengan mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Beradaptasi dengan  “the new normal” nampaknya  bukanlah sesuatu yang mudah. Sebab situasi ini berhubungan dengan  perilaku manusia yang cenderung sulit berubah (resist to change). Hal ini jelas terlihat di sekitar kita begitu banyaknya warga masyarakat yang kelihatannya abai terhadap protokol kesehatan. Dampak dari sikap (MALAS TAHU) yang menganggap pandemic virus corona-19 hanyalah sebuah ilusi atau (TIPU-TIPU) saja, berakibat angka penyebaran virus corona-19 terus meningkat dari waktu ke waktu pada hampir seluruh wilayah di Indonesia. Status zona-zona  penyebaran virus Corona-19 terus berubah secara bergantian dari zona hijau kembali menjadi zona kuning atau merah dan seterusnya.  Hal ini  jelas terlihat dari data jumlah korban jiwa yang meninggal di Indonesia akibat virus Corona-19 yang terus bertambah dan sudah mencapai 7.832 orang dan  menduduki peringkat tertinggi di Asia Tenggara.  Dari data ini terlihat tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 4,35 % lebih tinggi dari rata rata global 3,4 %. Angka kematian tenaga kesehatan juga terus meningkat. Data IDI menunjukan sudah 105 dokter meninggal akibat Covid-19 (Liputan7.com, 05 Sept 2020) dan tenaga perawat 82 orang (harian Kompas 20 Agustus 2020, hal 15).   Angka kematian dokter maupun perawat yang cukup tinggi ini  seharusnya menjadi tanda awas (WARNING) bagi kita semua  bahwa kondisi pandemi virus corona-19 belum tertanggulangi.

Bahkan harian Radar Timika Radar tanggal 14 Agustus 2020 yang lalu  pada headline news melaporkan 282 siswa di Jayapura terpapar Corona karena KBM.  Dengan kondisi seperti ini, maka  tentunya akan menjadi pertimbangan serius pihak pemerintah untuk mengkaji secara komprehensif kemungkinan pembukaan sekolah dengan pola tatap muka secara langsung, sebab bagaimanapun anak-anak kita  akan sangat rentan terhadap penyebaran virus ini karena mereka benar-benar harus dilatih untuk berdisiplin menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Inilah sebuah realitas kehidupan dan perubahaan atau disrupsi yang sedang kita hadapi.

Berselancar di Dunia On-Line

Belajar secara virtual (ON-LINE) tentunya merupakan sesuatu yang baru apalagi untuk level pendidikan dasar SD/SMP.  Bahkan pada level orang  dewasapun membutuhkan kesiapan penguasaan tehnologi penunjang misalnya WA, ZOOM, WEBEX, Google Map, dsb. Pertanyaan yang muncul  kepermukaan sekarang ini adalah seberapa efektif system yang didesign untuk memenuhi tuntutan pendidikan secara nasional?. (*/bersambung)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *