oleh

Belajar Online Sebuah Kemajuan atau Kemunduran?? (Bagian 2/Habis)

Oleh: Melkias Maspaitella, SE (Penulis tinggal di Timika)


Adalah Nadiem Makarim – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  yang sebelum menjadi menteri telah  memiliki pengalaman menjalankan bisnis  berbasis  on line “Gojek” yang sangat sukses menyandang predikat “UNICORN”(perusahaan rintisan/startup yang memiliki valuasi > US $ 1 juta) bersama start-up  lain seperti Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, dsb. dan memiliki nilai kekayaan mencapai Rp. 1.4 triliun.   Sebagai seorang menteri yang memilki track-record berbisnis on-line yang mumpuni, mendorongnya untuk mendesign program pendidikan berbasis on-line. Banyak orang “gagal paham” dan melakukan penolakan karena dikuatirkan akan menurunkan kualitas pendidikan kita,  namun  ketika muncul pandemic virus Corona 19 yang membatasi  jarak dan menghindari kumpulan massa,  maka “belajar on-line”  menjadi salah satu solusi. Dari hitungan cost benefit ternyata belajar on line memberikan  keuntungan  seperti : fleksibilitas waktu dan tempat,  tidak ada biaya transportasi, tidak ada biaya seragam baru, tidak ada uang jajan bagi anak, tidak ada uang beli buku) serta adanya kesempatan penguasaan teknologi baru, namun harus diingat bahwa “tidak semua kegiatan praktek (physical practice) dapat dilakukan secara ON-LINE”.

Dalam situasi sekarang ini nampaknya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Adanya disparitas pendapatan dan ketersediaan perangkat (gadget/HP, Laptop, PC) antara keluarga,  disparitas jaringan internet antar daerah, literasi teknologi guru serta kesenjangan antara sekolah negeri dan swasta, dsb. harus menjadi perhatian serius semua pihak. Bisa dibayangkan, jika dalam  satu keluarga terdapat  4 anak sekolah tentunya setiap anak harus memiliki gadget/PC atau laptop ditambah  paket data dan jaringan yang reliable untuk kesinambungan pembelajaran sehingga pemerataan pendidikan bagi semua warga negara sesuai amanat UUD 45 pasal 31 ayat 1-4 dapat terpenuhi. Adanya upaya pemerintah memberikan bantuan pulsa data gratis kepada siswa dan guru melalui dana BOS  merupakan berita yang menggembirakan (Radar Timika, 4 Sept 2020). Bagi anak anak kelas ekonomi menengah keatas yang sudah memiliki perangkat tsb., barangkali tidak banyak kesulitan karena mereka  telah terbiasa dengan media on-line, maka belajar secara on-line yang dicanangkan pemerintah bukanlah hal baru bagi mereka. Namun tantangan yang paling besar dan menjadi pertanyaan yang sungguh menggelitik nurani kita semua adalah bagaimana nasib anak anak yang orang tuanya berada dalam kategori ekonomi lemah dan tinggal  dalam  wilayah terisolir (isolated area) yang jumlahnya cukup banyak.    Hal lain  yang harus diperhatikan adalah perlu  “design pelatihan” berbasis on line  kepada para guru yang memang membutuhkan peningkatan penguasaan teknologi, termasuk para siswa dan juga orang tua murid yang barangkali mengalami kegagapan teknologi (GAPTEK) karena masih terikat dengan kondisi masa lalu.   

Situasi pandemic  covid 19 ternyata melahirkan berbagai kreativitas tidak hanya pada dunia pendidikan tetapi hampir seluruh sector kehidupan manusia termasuk dunia kerja salah satunya pemberlakuan konsep WFH (Work From Home) artinya segala sesuatu  dilakukan dari rumah secara on-line. System ini  untuk sementara dianggap tepat untuk menjaga kestabilan operasional perusahaan. Pertanyaannya seberapa efektif dan berapa lama  cara ini dapat bertahan mengingat biaya2 tetap (fixed cost) akan tetap ada.  Banyak perusahaan yang terpaksa mengistirahatkan karyawan atau mereschedule jam kerja, namun ada pula perusahaan2 yang tetap berjalan, contoh seperti PT Freeport Indonesia yang  tidak merumahkan karyawan tetapi memberlakukan program WFH (Work From Home). Tak dapat disangkali bahwa semua upaya ini adalah merupakan spirit implementasi  nilai nilai “SINCERE” (Safety, Integrity, Commitment, Respect dan Excelence) yang sementara diperkenalkan dan diharapkan akan menjadi culture dan gaya hidup karyawan bahkan menjadi gaya hidup seluruh komunitas.

Yang penting bagi kita semua sekarang ini adalah  “kenangan, tradisi dan mitos” sedapat-dapatnya tidak membuat kita “gagal paham” sehingga memperlambat response terhadap perubahaan/disrupsi yang  terus terjadi.  Ternyata belajar ON-LINE dari rumah inilah akan membuka wajah pendidikan di Indonesia secara keseluruhan  tentang kesenjangan yang terjadi antara pusat dan daerah. Belajar dan tentunya bekerja “on line” menjadi  sebuah tantangan  masa kini, sebuah kemajuan atau kemunduran?? (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *