oleh

Edarkan Sabu dari Lapas, Mus dan Mulyadi Divonis 11 Tahun

Dan Denda Rp 1 Miliar

Dua Warga Binaan Permasyarakatan (WBP) di Lapas Klas II B Timika dipastikan bersalah, karena terbukti mengendarkan sabu dari Lapas melalui salah satu istri WBP. Dua terpidana yang dijatuhkan hukuman Selasa (8/9) masing-masing bernama Mus Mulyadi dan Ismail.

Dalam agenda putusan, Majelis Hakim yang terdiri dari Muh Khusnul Fauzi Zainal, SH, Wara LM Sombolinggi, SH, Sarmaida ER Lumban Tobing, hadir pula Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Mimika, Habibie Anwar, SH. Sedangkan kedua terpidana dihadirkan ke persidangan melalui sambungan telepon dan video call.

Kedua terpidana diputus bersalah, berdasarkan dakwaan kesatu atas pengedaran narkotika bukan tanaman yang beratnya melebihi lima gram.

“Menjatuhkan pidana kepada terpidana dengan pidana penjara selama 11 tahun dan biaya denda Rp 1 miliar. Jika terpidana tidak membayar denda tersebut maka diganti dengan pidana penjara selama tiga bulan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Muhammad Husnul Fauzi yang membacakan putusan kepada dua terpidana secara terpisah.

Dalam persidangan sebelumnya, tuntutan yang dilayangkan JPU Habibie Anwar lebih ringan, dibanding putusan yang dibacakan yakni pidana penjara selama 10 tahun. Namun untuk biaya denda, JPU menuntut lebih tinggi yakni dengan nominal Rp 2 miliar atau kurungan penjara selama 8 bulan.

“Terpidana bernama Mus itu tidak dilakukan penahanan selama jalannya sidang. Karena yang bersangkutan saat ini sedang menjalani penahanan di Lapas, atas dugaan kasus serupa yakni narkotika. Di mana yang bersangkutan diputus enam tahun penjara atas perkara tersebut,” katanya sebelum sidang dimulai.

Dari dakwaan terhadap keduanya diriwayatkan, kasus ini bermula dari penangkapan oleh Satres Narkoba pada 12 September 2019, sekitar jam 3 sore terhadap saksi bernama Maikel Maulani, yang saat ini merupakan terpidana di Lapas Timika.

Di mana ditemukan satu paket sabu bersama Maikel. Setelah dilakukan pengembangan, Satres Narkoba kemudian menangkap Eric di salah satu rumah kos di Jalan Busiri ujung. Pada saat penggeledahan di rumah Eric, Satres Narkoba menemukan, tujuh paket plastik kecil bening berisi sabu, satu buah timbangan digital, sebuah tas hitam dan satu alat hisap bong.

Setelah dilakukan pengembangan lebih lanjut, diketahui bahwa Eric mendapatkan barang haram tersebut, dari terpidana Ismail yang mengedarkan sabu melalui Lapas. Dimana sabu tersebut diedarkan melalui Fatimah Idris, yang saat ini menghuni Lapas. Fatimah diketahui belakangan merupakan istri terpidana Mus Mulyadi. Bersamaan dengan Fatimah, polisi menemukan 13 paket kecil dalam plastik bening berisi sabu.

Semua sabu milik terpidana Mus Mulyadi dipastikan didatangkan dari Makassar melalui jasa pengiriman J&T. Di mana setiap sabu yang datang, langsung diamankan Fatimah. Ia hanya akan mengeluarkan sabu ketika ada yang membeli barang tersebut.

Ismail sendiri dipastikan bertugas sebagai pencari pembeli, dan akan menghubungkannya langsung ke Fatimah jika ada peminat. Setiap ada transaksi, saksi Fatimah akan menyipkan paketan yang disimpan dalam plastik, dan disembunyikan dalam semak-semak di tempat transaksi yang telah ditentukan.

13 paket sabu yang sebelumnya diamankan dari penggeledahan di rumah milik Fatimah dan Mus Mulyadi, polisi memastikan berat keseluruhan barang bukti mencapai 14,26 gram. Kedua terpidana yakni Mus Mulyadi dan Ismail dalam perkara ini disangkakan Pasal 114 Ayat (2) dan 112 Ayat (2), UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (dcx)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *