oleh

Pemerintah Masih Dilema Buka KBM

Di Seputaran Kota Timika

“Ketidaksiapan sekolah ini dari hasil UNICEF loh. Bukan Kami. Kemungkinan Natal nanti puncak kasus akan ada. Bukan kita tidak izinkan, tetapi belum diperbolehkan,” kata Reynold.

 

P emerintah Daerah Kabupaten Mimika masih dilema untuk kembali membuka aktivitas Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) di seputara Kota Timika di tengah masih mewabahnya pandemi Covid-19. Beberapa distrik di Mimika, masih masuk dalam kategori zona merah.

Di satu sisi pemerintah ingin menjaga kesehatan anak-anak sekolah agar tidak tertular covid-19 dari aktivitas di sekolah. Namun di sisi lain, anak-anak usia sekolah sejak Maret lalu hanya melakukan aktivitas di rumah dan membuat mereka dalam rutinitas yang membosankan.

Wakil Bupati Johannes Rettob saat dijumpai Radar Timika di Kantor DPRD Mimika, Jumat (11/9) mengakui, jika Kabupaten Mimika masih masuk zona merah penyebaran covid-19 sehingga antivitas di sekolah belum bisa dibuka kembali. Namun, proses pembelajaran dari rumah dengan sistim virtual juga tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan terkait keterbatasan sarana telekomunikasi.

“Ini kita dalam dilema, ini kita bicara yang zona merah dulu, satu sisi kita mau betul-betul jaga kesehatan, jadi anak-anak sekolah jangan masuk, tapi di satu sisi kita tidak bisa biarkan mereka terus begitu karena kondisi Mimika belum sepenuhnya kita belum bisa belajar secara virtual,” jelas Wabup Rettob.

Melihat persoalan ini, pemerintah akan berupaya untuk melakukan uji coba seperti di daerah lain apakah bisa dilakukan pembagian shift setengah dari jumlah siswa yang belajar dalam kurun waktu sehari. Pembagian anak-anak ini pun sebutnya masih dalam tahap evaluasi.

Kedepannya, apakah sistem pembagian kegiatan belajar anak dengan jumlah anak yang dibatasi masih bisa dilakukan atau dihentikan tetap akan dievaluasi terlebih dahulu.

Wabup Rettob sendiri mengakui jika angka penularan covid-19 kini semakin meningkat yakni 1 berbanding 3. Jika sudah angka ini maka akan kembali seperti pada bulan Mei lalu. Jika masyarakat tidak menerapkan standart protokol kesehatan, maka dilema untuk memikirkan ekonomi atau kesehatan terlebih dahulu akan menjadi masalah lagi.

Dengan Perpres Nomor 6 Tahun 2020, daerah bisa melakukan kegiatan ekonomi namun kesehatan tetap bisa dijaga. Untuk itulah, pemerintah hingga kini akan terus berupaya agar tidak ada penularan kasus covid-19 lewat aktivitas anak-anak di sekolah.

Dinkes Harap Pembelajaran Tatap Muka Tidak Dibuka Dulu

DENGAN angka penambahan kasus baru Covid-19 di Timika yang masih terjadi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra menilai pola pembelajaran tatap muka untuk anak sekolah belum memungkinkan untuk dilaksanakan di Timika, khususnya di daerah yang berkategori Zona Merah.

Reynold kepada wartawan, Selasa (8/9) lalu menjelaskan, sebagian besar sekolah tidak siap untuk menyiapkan sanitasi yang layak sesuai standar, seperti ketersediaan air bersih dan sarana sanitasi.

Ketidak siapan ini kata Reynold, baru dari aspek sanitasi, belum dari aspek lainnya, termasuk jaga jarak. Sehingga ia meminta agar penerapan KBM di sekolah tidak dilakukan dulu karena menurutnya di bulan September ini kasus Covid-19 ini akan naik, tetapi kemungkinan dalam satu dua minggu kedepan akan turun dan akan kembali naik di Bulan Desember.

“Ketidaksiapan sekolah ini dari hasil UNICEF loh. Bukan Kami. Kemungkinan Natal nanti puncak kasus akan ada. Bukan kita tidak izinkan, tetapi belum diperbolehkan,” kata Reynold.

Pembukaan belajar tatap muka di sekolah di beberapa wilayah memang sudah diperbolehkan. Namun boleh ini kata Reynold ada dua pilihan, yakni belajar di sekolah bagi yang mau, tetapi bagi orang tua yang keberatan silakan melakukan pembelajaran jarak jauh atau dari rumah. (ami/ptb)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *