oleh

Angka Stunting di Mimika Capai 11 Persen

Kasus anak kerdil atau stunting di Kabupaten Mimika tergolong masih tinggi. Dari data Dinas Kesehatan Mimika 11 persen dari 300 anak masuk kategori stunting. Bupati Mimika sudah menandatangani komitmen Mimika Bebas Stunting pada Tahun 2024 mendatang.

Untuk mencapai target itu Dinas Kesehatan Mimika bersama organisasi perangkat daerah (OPD) serta lintas sektor mulai menyusun rencana aksi daerah. Itu diawali dengan sosialisasi dan advokasi pencegahan penanganan stunting di Mimika yang digelar Senin (21/9) kemarin di Hotel Horison.

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, SSos MM yang hadir membuka kegiatan dalam sambutannya mengatakan, penurunan stunting menjadi salah satu program prioritas nasional. Ia menegaskan bahwa stunting tidak semata-mata menjadi tanggungjawab bidang kesehatan, tetapi berbagai pihak.

Jika dipersentasi dikatakan Wabup, peran bidang kesehatan hanya 25 persen. Sementara 75 persen menjadi bagian sektor lain. Untuk itu Wabup rettob menekankan kepada semua OPD untuk menyusun rencana yang baik. “Bagaimana ketahanan pangan, pendidikan hingga infrastruktur. Ini penting sekali,” tegasnya.

Stunting lanjutnya, harus menjadi perhatian serius. Pasalnya visi misi Bupati dan Wakil Bupati adalah menjadi Mimika cerdas, aman, damai dan sejahtera. Untuk mewujudkan Mimika cerdas maka harus dimulai dari anak kecil pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Selama ini untuk penanganan misalnya stunting masih dikerjakan secara parsial. Tidak ada kolaborasi. Untuk itu ia meminta OPD belajar dari penanganan Covid-19 yang bisa ditekan karena adanya kolaborasi semua pihak. “Stunting empat tahun kedepan harus dikurangi. Setiap OPD harus membuat perencanaan dan laksanakan,” tandas Wabup Rettob.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra menambahkan stunting di Mimika mencapai 11 persen dari 300 anak. Itu yang sempat didata. Dua distrik dengan angka cukup tinggi yakni Wania dan Mimika Timur Jauh. Makanya dua distrik ini akan menjadi lokus.

Anak kerdil atau stunting terjadi karena bertumbuh dan berkembang tidak sesuai usia. Itu terjadi karena gizi kurang sehingga mempengaruhi kognitif tingkat kecerdasan, kepintaran dan kreatifitas anak. Sehingga ini akan menjadi perhatian serius dari Pemda Mimika. “Cerdas bukan cuma bisa membaca  dan menulis. Bukan hanya memaksakan otak kiri tapi juga otak kanan, kita butuh gizi yang cukup,” terangnya.

Pendekatan dalam penanganan stunting kata Reynold harus sama seperti penanganan Covid-19 yaitu konfergensi atau adanya koneksi semua pihak. Pada tahap awal, dilakukan sosialisasi dan advokasi secara internal melibatkan OPD. Setelah itu akan dilanjutkan dengan pihak swasta dengan program CSR.

“Saya pikir swasta punya komitmen dalam pembangunan di Mimika. Yang penting kita samakan presepsi, karena pertemuan ini sosialisasi dan advokasi untuk mendapat dukungan dari dinas atau OPD yang lain setelah itu kita akan dengan CSR,” tuturnya. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *