oleh

BBKSDA Tertibkan Tumbuhan dan Satwa Liar

Oleh Tim SKW II Timika

DALAM rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Stasiun Karantina Wilayah (SKW) II Timika Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, bersama Balai Gakkum Wilayah Maluku-Papua dan Taman Nasional (TN) Lorentz, melakukan kegiatan penertiban peredaran tanaman dan satwa liar (TSL) di Kabupaten Mimika.

Kegiatan ini menindaklanjuti atas maraknya peredaran dan perdagangan TSL, yang dilindungi Undang-Undang melalui media sosial maupun informasi dari masyarakat.

Dari kegiatan ini, tim pelaksana berhasil menertibkan satwa oleh masyarakat di Kabupaten Mimika berjumlah 57 ekor. Dengan rincian jenis kasturi kepala hitam (Lorius lory) 56 ekor, dan Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita) berjumlah 1 ekor.

Kepala (SKW) II Timika Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, Bambang Hartanto Lakuy, SP, Senin (21/9) mengungkapkan, bahwa satwa tersebut merupakan jenis satwa yang dilindungi oleh negara. Sehingga siapapun dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa, yang dilindungi serta bagian-bagiannya dalam keadaan hidup ataupun mati.

“Kami bersama Balai Gakkum Wilayah Maluku-Papua dan Taman Nasional (TN) Lorentz menangkap 57 ekor TSL di Kabupaten Mimika,” ujar Bambang.

Selanjutnya kata Bambang, satwa tersebut akan dilakukan karantina dan diperiksa kelayakan, untuk kemudian dilakukan pelepasliaran di habitat alaminya.

Kegiatan patroli ini merupakan bentuk komitmen Balai Besar KSDA Papua dalam melindungi, menjaga dan mengawasi peredaran TSL khususnya di Wilayah Papua. Agar keanekaragaman hayati tetap lestari, namun dalam mewujudkannya BBKSDA Papua tidak bisa bekerja sendiri.

BBKSDA Papua tambang Bambang menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat, untuk turut berpartisipasi dalam melindungi dan menjaga keanekaragaman hayati di Papua, agar keseimbangan ekosistem dapat selalu terjaga.

Satwa tersebut selanjutnya dititipkan di instalansi karantina hewan, Mile 21 Departement Environment PT Freeport Indonesia, untuk dilakukan karantina dan selanjutnya diperiksa kelayakan untuk dilakukan pelepasliaran ke habitat alaminya. (ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *