oleh

Mimika Mulai ‘Sesak’ Hadapi Covid-19

Kasus terus bertambah. Mimika nampaknya mulai sesak dalam menghadapi virus corona atau Covid-19. Terutama dari sisi penanganan. Ketersediaan ruang perawatan dan isolasi hingga peralatan medis yang mulai terbatas.

Di saat situasi kritis, rumah susun yang selama ini sudah difungsikan sebagai shelter terpaksa tutup sementara karena adanya kerusakan dan perlu dilakukan rehab. Butuh waktu hingga dua minggu kedepan untuk perbaikan.

Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika mulai kelimpungan. Ruang isolasi tekanan negative dan tekanan biasa RSUD Mimika penuh. MSC sudah penuh. Puskesmas sebagai rumah sakit darurat ditolak masyarakat. Fasilitas PT Freeport Indonesia di Mile 38 yang awalnya dijadikan alternatif juga penuh.

Wakil Bupati, Johannes Rettob, SSos MM meninjau langsung kondisi rumah susun, Selasa (29/9). Ia mengatakan, saat ini harus ada langkah-langkah strategis seperti membentuk klinik darurat untuk menangani pasien dengan gejala ringan.

“Kami kemarin ambil langkah-langkah salah satunya menentukan Puskesmas Mapurujaya. Di sana kapasitas 15 tempat tidur ternyata ditolak masyarakat. Jadi kita cari langkah lain hanya di sini kebetulan dengan kondisi yang ada perlu direhab cukup banyak,” paparnya.

Bukan hanya tempat isolasi yang terbatas. Meningkatnya kasus Covid-19 dikatakan Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra sangat berdampak pada rumah sakit rujukan. Apalagi sebagian besar pasien mengalami gejala sedang hingga berat dan membutuhkan penanganan.

Rumah sakit saat ini dalam kondisi terbatas. Tenaga terbatas, tempat tidur penuh, reagen untuk pemeriksaan dan sarana prasarana lainnya juga mulai terbatas. Obat bahkan termasuk oksigen. RSUD Mimika hanya memiliki 4 buah ventilator dan kabarnya semua sedang terpakai. “Kondisi sampai hari ini, ketersediaan tempat tidur itu sudah tidak cukup. Kedua, oksigen yang menipis,” ungkapnya.

Pada fase Maret sampai Agustus, kebutuhan oksigen untuk pasien Covid-19 hanya 20 tabung per hari. Tapi dalam dua minggu terakhir penggunaan oksigen mencapai 60 tabung sehari. Dinkes sudah berkoordinasi termasuk pihak yang produksi oksigen ternyata hanya bisa 50 tabung per hari. Ada kekurangan. Sehingga PTFI membantu supply 20 sampai 25 tabung per hari. Kebutuhan oksigen diprediksi terus bertambah jika kasus terus bertambah terutama yang bergejala sedang sampai berat.

Tim kesehatan juga mulai merubah skenario pelayanan. Dimana semua orang yang datang dengan gejala Covid-19 diskrining oleh Puskesmas dan dilakukan penjaringan menggunakan rapid test. Langsung isolasi mandiri dengan pengawasan dari Puskesmas dan tim Dinkes sampai jadwal swab.

Langkah kedua, adalah menambah tempat isolasi. Pasien yang kondisinya sudah stabil setelah dirawat di RSUD dirujuk ke shelter. Ruangan, tempat tidur, obat-obatan sedang dipersiapkan. Nantinya ada dokter penanggungjawab pelayanan yaitu dokter spesialis penyakit dalam dibantu 5 orang dokter umum, tenaga paramedis, penunjang medis yang akan bertugas 24 jam dalam waktu 5 shift.

Makanya saat ini Dinkes menambah tenaga dengan merekrut 98 orang. Mulai dari dokter spesialis hingga cleaning service. Sehingga setiap shift untuk pelayanan terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, tenaga fasrmasi, kesehatan lingkungan, gizi, analis, administrasi, driver sampai cleaning service.

Penambahan ini juga dilakukan agar pelayanan dasar seperti ibu hamil malaria, TB hingga imunisasi tetap bisa berjalan. (sun)  

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *