oleh

YGAB Buat Piala Berbahan Tembaga Murni 8 Kg

TIMIKA – Yayasan Generasi Amungme Bangkit (YGAB) Kabupaten Mimika berkomitmen untuk terus menggelar kegiatan olahraga setiap tahunnya di Kabupaten Mimika. Pasalnya olahraga merupakan salah satu media yang sangat efektif untuk bisa menyatukan seluruh masyarakat Mimika tanpa melihat suku, ras maupun agama.

Bahkan tidak tanggung-tanggung YGAB saat ini sudah memiliki sebuah piala bergilir yang terbuat dari 100 persen tembaga, dengan berat mencapai 8 kilogram. Piala tersebut merupakan piala bergilir yang nantinya akan dipakai setiap turnamen yang digelar oleh YGAB.

Ketua YGAB Mimika, Menuel John Magal menyerahkan piala bergilir yang berbahan tembaga murni seberat 8 kilogram, kepada juara turnamen gawang mini yang diselenggarakan YGAB dalam rangka HUT yayasan yang ke 6 tahun 2020.

John Magal: Olahraga  Menjadi Media Pemersatu

K etua YGAB, Menuel John Magal kepada Radar Timika, Minggu (18/10), mengatakan YGAB berkeyakinan dapat mengajak serta menggandeng seluruh lapisan masyarakat Mimika, untuk mendukung segala bentuk pembangunan di Kabupaten Mimika, melalui rasa persaudaraan yang tinggi.

“Piala yang disediakan adalah 100 persen terbuat dari tembaga dengan berat 8 kilogram. Piala ini kita desain khusus. Dan piala ini sendiri memiliki filosofi, tidak hanya sekedar piala saja,” ucapnya.

Bahkan kata dia, piala tersebut dibuat sendiri dengan desain khusus, serta memiliki filosofi dan arti yang mendalam. Jarang masyarakat yang tahu bahwa produk unggulan di Kabupaten Mimika adalah tembaga. Ini perlu diangkat juga.

Ia menjelaskan, desain piala tersebut memiliki arti masing-masing bagian. Mulai dari bagian dasar yang berbentuk honai, terus ada empat pilar yang berbentuk tangan sebagai penyangga dan di bagian atasnya terdapat sebuah bola.

Piala dengan bahan 100 persen tembaga ini memang didesain khusus oleh YGAB, serta melibatkan berbagai pihak yang ada di Timika. Bahkan Piala ini juga dihiasi medali dengan motif dan warna beragam, sebagai simbol perbedaan dalam kebersamaan.

Sementara  lanjutnya, medalinya yang berwarna warni menggambarkan keberagaman suku bangsa yang ada di Mimika. Ini unik, karena medali ini dianyam oleh seorang mahasiswa asal Suku Kamoro, yang saat ini sedang kuliah di Universitas Soegijapranata Semarang.

“Yang buat medalinya kemarin itu adik kita dari Suku Kamoro, yang bernama Viktoria

Tumuka. Viktoria adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang,” ungkapnya.

Ia menerangkan, desain serta proses pembuatan piala tersebut tidak hanya melibatkan YGAB saja, tetapi semua elemen masyarakat. Ini menjadi  esensi dari masyarakat Mimika sendiri. Bahwa di Mimika tidak hanya Suku Amungme. Tetapi juga ada yang menunjukkan simbol atau kekhasan dari Suku Kamoro. Ini menandakan bahwa arti dari kebersamaan masyarakat Mimika, diikat dalam satu wadah yakni sarana olahraga.

Situasi di Timika lanjutnya, sangat dibutukan kerja sama antara masyarakat dalam membangun Timika ini kedepannya, yang diikat pada tali persaudaraan dan ikatan kuat seperti halnya piala ini.

Karena itu, dalam merayakan HUT nya yang ke 6 yang jatuh pada tanggal 15 Oktober 2020 lalu, YGAB menggelar turnamen gawang mini. Turnamen ini bertujuan untuk menyatukan seluruh masyarakat di Mimika.

“Kami kemarin menggelar turnamen gawang mini. Kami mengusung tema “Bersatu Dalam Perbedaan, Berbeda Dalam Persatuan,” ungkap John Magal.

“Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk yang juara di turnamen kemarin. Karena kemenangan ini membutuhkan semangat, motivasi untuk meraih juara, kekompakan, disiplin, kerja sama, tim yang solid,” tuturnya.

Lanjutnya, selaku ketua yayasan yang menyelenggarakan turnamen ini, tetap mengingatkan tema yang diusung. Turnamen sepak bola gawang mini hanyalah sarana untuk suatu tujuan. Meraih juara 1 memang menjadi impian setiap tim peserta. Tetapi keberhasilan, kesuksesan, prestasi yang tertinggi adalah “Warga Mimika Menjadi Satu, Hidup Rukun Sebagai Saudara”.

“Kami memfasilitasi terjadinya pertemuan antar warga melalui turnamen ini. Sehingga sepanjang turnamen hingga saat ini, di lapangan ini terjadi tegur sapa diantara kita tanpa memandang bulu dari mana asal kita, latar belakang suku mana dan dari agama apa,” sebutnya.

“Perbedaan suku, budaya, agama, warna kulit, kelas usia, itu merupakan keniscayaan. Artinya, kita mau tidak mau harus terima. Tetapi Bersatu itu tugas kita, dan harus diperjuangkan untuk menjadi kenyataan di tempat kita hidup ini, Mimika tercinta. Untuk kerukunan atau persatuan warga Mimika inilah yang terus kami berjuang,” sambung dia.

Dalam kemajuan, di berbagai bidang pembangunan, ada masyarakat yang sudah maju, ada yang masih tertinggal. Ada yang sudah melangkah kedepan, ada yang masih jalan di tempat, itulah kondisi riil masyarakat saat ini.

“Contohnya masih sering terjadi konflik berbasis suku. Aktivitas sekolah terganggu. Aktivitas ekonomi terhenti, ada korban jiwa. Lalu kemajuan apa yang kita peroleh dengan konflik antar suku. Sementara di tempat-tempat lain, pendidikan terus berjalan sesuai kurikulum nasional, ekonomi lancar, kesehatan semakin baik. Mereka maju terus. Kita tidak melangkah ke mana-mana. Sekali lagi, mari kita wujudkan persatuan warga Mimika, lalu bersama-sama membangun Timika yang satu,” tegasnya.

Maka tema yang sama ini akan kembali digaungkan lebih keras lagi di tahun depan. Tim-tim yang turut bertanding kemarin dan semua tim yang ada di Timika, mulai sekarang rutin dan disiplin latihan, terus saling berlatih tanding. Karena tahun depan tentu turnamen juga lebih besar.

Ia mengajak masyarakat Mimika untuk memperhatikan piala bergilir. Piala ini pun dirancang sedemikian rupa untuk menyampaikan pesan-pesan atau nilai-nilai moral maupun filosofi yang tentu sangat baik buat kita bersama.

 

Untuk diketahui, dalam rangka merayakan HUT YGAB ke 6 yang jatuh tanggal 15 Oktober 2020 lalu, YGAB Mimika menggelar turnamen gawang mini yang diikuti oleh puluhan tim putra maupun putri.

Dalam turnamen terrsebut juara satu untuk kategori tim putri diraih oleh tim Sali FC. SSB Mimika juara dua dan Kuligay FC peringkat ketiga. Sementara untuk kategori tim putra

Juara satu Pamkoma B, juara dua, Fadir FC dan juara tiga YGAB B. Bagi tim yang meraih juara masing -masing mendapatkan piala dan uang pembinaan. Sementara untuk juara satu kategori putra selain piala tetap medali dan uang pembinaan, mereka juga berhasil membawa pulang piala bergilir dengan berat 8 kilogram tembaga asli.

Filosofi Piala Bergilir

Dasar Honai. Honai adalah simbol kebanggaan, semangat kebersamaan, kekeluargaan, pembelajaran, simbol pemersatu dan lain-lain. Tiang penyangga dimana tangan empat buah menopang bola ini simbol kekuatan, persatuan, bekerja sama (sinergi) mewujudkan cita-cita bersama, musyawarah, yaitu kesejahteraan masyarakat Timika. Dan Bulatan dunia artinya cita-cita yang sudah menjadi tekad. Selain itu juga ada Burung Cenderawasih sebagai simbol kebanggaan Pulau Papua dan taring babi sebagai simbol laki-laki yang gagah berani.

Sementara materi dasar piala 100 persen tembaga. Produk unggulan kota kita tercinta adalah tembaga. Maka bahan dasarnya berasal dari tembaga atau Tembagapura. Melalui kegiatan ini mampu mengikat dan menyatukan perbedaan yang ada. (itz/adv)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *