oleh

Bupati Omaleng Komitmen Turunkan Stunting di Mimika

TIMIKA – Kasus stunting atau anak kerdil di Mimika masih cukup tinggi. Bahkan kasus stunting pada dua distrik yakni Wania dan Mimika Timur Jauh berada di atas angka nasional, yakni di angka 23 persen sampai 35 persen.

Menyikapi itu, Bupati Mimika, Eltinus Omaleng, SE MH menyatakan komitmennya untuk menurunkan stunting di Mimika hingga 14 persen. Itu ditandai dengan penandatangan komitmen dalam Rembuk Stunting yang digelar Selasa (20/10) di Hotel Grand Mozza Timika. Rembuk Stunting juga dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah.

Untuk mewujudkan itu Bupati Omaleng mengarahkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk berkolaborasi dan memberikan perhatian sebagai strategi konvergensi penanggulangan dan pencegahan stunting di Mimika. “Selama ini OPD hanya fokus di kota, tidak pernah pikir di kampung ada apa,” katanya.

Sebagai contoh di Tsinga, dimana kasus diare hampir tidak ada karena pembangunan jelas. Rumah sehat dilengkapi toilet dan fasilitas air bersih dibangun. Sekolah berpola asrama. Namun itu semua dilakukan oleh PT Freeport Indonesia, bukan oleh Pemda. Ia menginstruksikan OPD melakukan hal seperti itu agar hasilnya jelas.

Bupati Omaleng menilai, usulan dari kepala distrik selama ini adalah usulan masuk akal. Tapi ketika sampai di tingkat kabupaten, usulan itu dicoret. Padahal yang membutuhkan pembangunan adalah kampung. Masyarakat tidak puas dengan pembangunan akhirnya menolak Otsus dan memilih bergabung dengan kelompok kriminal bersenjata.

Ia meminta mulai Tahun 2021 mendatang program OPD harus fokus untuk menurunkan stunting dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Mengenai anggaran menurut Bupati ada banyak sumber. Mulai dari Dana Otsus kemudian dana kemitraan yang dikelola Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra mengungkapkan penyebab langsung stunting adalah kurangnya asupan gizi dan penyakit infeksi. Ini dibebaskan akses pangan bergizi yang sulit, lingkungan sosial, akses pelayanan kesehatan preventif dan kuratif serta lingkungan pemukiman.

Dua distrik yakni Wania dan Mimika Timur Jauh akan menjadi role model intervensi karena memiliki kasus tertinggi. Bentuk intervensi untuk akses kesehatan dengan menguatkan promosi kesehatan dan preventif dengan melibatkan stakeholder dengan pendekatan intervensi spesifik pada kelompok ibu hamil, ibu nifas, bayi/balita dan remaja.

Perlu menyediakan sarana air bersih, air minum dan sanitasi kepada penduduk miskin dan ketersediaan pangan bergizi secara berkelanjutan. Melakukan pendidikan pangan bergizi kepada masyarakat terutama orang tua, anak usia dini dan remaja putri. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *