oleh

Peringatan HSN V Diwarnai Beberapa Kegiatan

TIMIKA – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) V Tahun 2020 di Kabupaten Mimika, diwarnai dengan beberapa kegiatan. Beberapa kegiatan yang melibatkan siswa-siswi (santriwan dan santriwati) seperti aneka macam lomba digelar secara virtual. Namun, untuk kegiatan lainya seperti upacara bendera, Istighosah Kubro dan Syukuran dilaksanakan langsung, Kamis (22/10) di Aula Fidzalika Muslimat NU.

Ketua panitia Peringatan HSN V, Lalu Hiskam Anadi mengatakan, ia yang berbeda dari kumpulan para santri, pengasuh pondok atau guru karena baju dan cara bicaranya tidak menggambarkan santri, berharap janganlah dilempar atau dirayu keluar dari ruangan ini.
Hal ini karena sesungguhnya kehadiranya sebagai polisi dan pribadi tidak untuk mengamankan jalannya demo, tetapi sesuatu kehormatan bagi kami institusi kepolisian berada dalam lingkungan yang mulia ini.

Dimasa pandemi ini, panitia bersama Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mimika dengan tetap menerapkan protokol kesehatan mewadahi para santrian dan santriwati, bahkan guru untuk menunjukkan kemampuannya dalam berlaga pada kegiatan perlombaan.

Adapun kegiatan dilakukan secara online sebut Lalu, tidak biasanya dilakukan namun dengan mengucapkan Alhamdulillah kegiatan perlombaan dapat berjalan dengan lancar.

Selanjutnya, untuk kegiatan hari santri nasional ke 5 tahun 2020 di Kabupaten Mimika dilaksanakan beberapa kegiatan, diantaranya lomba secara online dengan aplikasi zoom dengan mata lomba , adzan, tahfidz, tilawah, sholawat dan Asmaul Husna serta diikuti oleh 187 orang dilaksanakan selama 3 hari mulai hari Senin tanggal 19 sampai dengan 21 Oktober.

Dengan tetap melaksanakan peringatan HSN tahun ini, Lalu berharap di tahun-tahun yang akan datang kegiatan yang sama bisa dilaksanakan dan menjadi agenda tetap oleh Pemda Mimika.

“Pada kegiatan hari Santri yang akan datang kami mohon agar peringatan hari Santri dapat diagendakan oleh semua pihak, termasuk pemerintah daerah sesuai yang tertuang dalam amanat UU, sebagai wadah berkumpulnya anak bangsa,” jelas Lalu.

Ditambahkan Lalu, iamengutip tentang sosok Santri yang ada dalam pembawaan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang adalah sosok santri, sosok biasa saja. Menjadi luar biasa, ketika dilihat dari luar pesantren. Padahal, di pesantren biasa saja, saling menghormati semua agama. Menghormati manusia, tidak melihat latar belakang dan status.(ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *