oleh

Dinas PUPR Bakal Bangun RTH di Pasar Sentral dan Jayanti

TIMIKA – Jumlah penduduk Mimika terus bertambah. Pembangunan juga semakin gencar. Mengantisipasi semakin berkurangnya ruang publik maka Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang akan membangun dua Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Sebagai tahapan awal Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR sedang membuat desain. Dua RTH itu akan dibangun di Pasar Sentral dan depan Lapangan Jayanti Jalan Yos Sudarso.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Mimika, Ir Syahrial, MM saat membuka seminar akhir perencanaan di Hotel Horison Diana Timika, Jumat (20/11) kemarin mengatakan dalam perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luasnya minimal 30 persen dari luas wilayah kota.

Di Mimika sendiri ditambahkan Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR, Pieter Edoway ruang terbuja hijau masih luas tapi milik pribadi sehingga sewaktu-waktu bisa dialihfungsikan. Misalnya jadi lokasi pembangunan gedung.

Untuk itu lanjutnya Pemda Mimika memanfaatkan lahan yang sudah ada yang notabene merupakan milik Pemda. Yakni di Pasar Sentral seluas 2,25 hektar dan depan Jayanti seluas 6.000 meter persegi.

Di Pasar Sentral terbagi menjadi dua yakni RTH 1 yang berada di area Kantor UPTD dan RTH 2 yang kini difungsikan sebagai pusat kuliner.

Desain yang ada tidak akan menghilangkan aktivitas yang sudah ada tapi akan ditata. Kantor UPTD akan tetap ada tapi di sekitarnya akan dibangun taman dan juga menampung sebagian pedagang kaki lima. Begitu juga pada RTH 2 Pasar Sentral yang mengusung konsep taman air akan tetap mengakomodir pedagang kaki lima.

Sesuai fungsinya menurut Piet, RTH akan menjadi tempat interaksi publik atau masyarakat, juga berolahraga sehingga disediakan fasilitas olahraga seperti jogging tracking, jalur sepeda hingga lapangan badminton.

RTH Jayanti juga hampir sama tapi areanya lebih kecil. Desain kedua RTH itu mengusung kearifan lokal seperti Burung Cenderawasih dan alat musik Papua, yaitu tifa.

Salah satu persoalan yang dihadapi kata Piet adalah di area Jayanti. Dimana sekarang ini terdapat banyak bangunan milik warga. Dinas PUPR sudah berkoordinasi dengan Satpol PP untuk dilakukan penertiban. (sun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *