oleh

Pusat Kuliner Pasar Sentral Ditutup Sesuai Instruksi Mendagri

TIMIKA – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengeluarkan instruksi bagi kepada seluruh kepala daerah untuk menegaskan konsistensi kepatuhan protokol kesehatan dan mengutamakan keselamatan rakyat.

Arahan tersebut tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2020 tentang Penegakan Protokol Kesehatan Untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Menindaklanjuti instruksi itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mimika terpaksa menutup pusat kuliner Pasar Sentral. Pasalnya pusat kuliner yang disambut antusias warga Timika menimbulkan kerumunan dan protokol kesehatan terbaikan.

Sekretaris Disperindag Mimika, Petrus Pali Ambaa dalam pertemuan di Hotel Horison Diana, Jumat (20/11) lalu mengatakan pusat kuliner harus ditutup karena adanya instruksi Mendagri.

Pantauan Radar Timika, Minggu (22/11) malam, suasana di Pasar Sentral yang beberapa pekan terakhir ramai mendadak sepi. Tersisa pedagang yang memang menempati ruko atau lapak di Pasar Sentral, bukan pedagang kuliner.

Gerobak milik pedagang dibiarkan tetap ada di lokasi. Tidak dibongkar. Tapi ada juga yang memilih kembali ke tempat dimana pedagang sebelumnya berjualan sebelum dipindahkan ke Pasar Sentral. (sun)

H Iwan Anwar

Politisi Golkar Minta Disperindag Tidak Lepas Tangan

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) diminta untuk tidak lepas tangan dan tetap bertanggungjawab atas kerugian akibat dari keputusan penutupan aktivitas penjualan kuliner di Pasar Sentral yang baru berjalan kurang lebih sebulan ini. Menurut Politisi Partai Golkar, H Iwan Anwar, para pedagang saat ini bingung dan merugi.

Iwan Anwar kepada Radar Timika, Sabtu (21/11) lalu mengatakan, apa yang dilakukan Disperindag merupakan langkah yang baik untuk menertibkan pedagang kaki lima di pinggir jalan. Namun dari sisi efektivitasnya kurang tepat. “Program ini adalah baik namun dilakukan diwaktu yang kurang tepat karena masih di masa pandemi Covid-19,” katanya.

Menurutnya, jika ingin membuat pusat kuliner, harus disiapkan satu lokasi agar pedagang nyaman. Kebijakan pemindahan para pedagang kaki lima yang sebelumnya berjualan di pinggir jalan lalu dipindahkan ke Pasar Sentral ini kata H Iwan, dilakukan pada waktu yang kurang tepat. Dan jika kini mereka harus gigit jari karena aktivitasnya ditutup akibat dari keramaian di masa pandemi covid-19, maka tentu saja Disperindag lah yang harus tetap bertanggungjawab atas nasib para pedagang.

“Bagaimana nasib para pedagang yang sudah terlanjur membuat gerobak dengan biaya yang tidak sedikit,” ujar H Iwan.

Disperindag sebutnya diharapkan dapat bertanggung jawab untuk melihat nasib para pedagang atas penutupan pusat kuliner ini

Disperindag juga diharapkan dapat memberikan solusi untuk penutupan pusat kuliner ini. Disperindag diharapkan dapat tetap memantau kondisi para pedagang ini. (ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *