oleh

Guru yang Jadi Mahasiswa Keguruan Khawatirkan Wacana Penyetaraan Gelar

TIMIKA – Sejumlah guru yang terdaftar sebagai mahasiswa keguruan di Universitas Cendrawasih mengeluhkan minimnya perhatian Pemda Mimika dalam studi mereka. Hal itu khususnya berkaitan dengan pembiayaan. Disisi lain, para mahasiswa mengaku was-was karena belum memperoleh gelar padahal tahun mendatang, ada wacana penyerataan gelar bagi guru.

Koordinator Tim Inisiasi Pencari Donatur Kelas PPKHB PGSD Uncen Kelas Timika, Obed Gobay, Minggu (29/11) sore di Kampung Nawaripi menceritakan, bahwa akan ada aturan di Tahun 2021 dimana para guru yang bukan dari strata kesarjanaan akan dipensiunkan dini. “Karena aturan itu, kami kemudian ramai-ramai mendaftarkan diri supaya mendapatkan ijazah sarjana,” ujarnya.

Ia mengatakan, dalam studi tersebut, pihaknya sempat dibiayai Pemda Mimika. Namun hal itu hanya berlangsung satu semester, tepatnya di semester pertama. Selanjutnya, pembiayaan kuliah dilakukan dengan pembayaran sendiri-sendiri. Untuk hal ini, ia memastikan awalnya ada penyataan akan dibiayai pemda hingga selesai. Namun kepengurusan untuk pembiayaan studi tersebut berubah, sehingga pembiayaan selanjutnya tidak pernah ada lagi.

“Padahal kami guru-guru ini dalam waktu dekat ada yang sudah pensiun,” keluhnya.

Disisi lain ia menyebut beberapa kabupaten lain, ada pembiayaan dari pemerintah daerah sehingga guru yang berdampak langsung terhadap aturan penyerataan guru di Tahun 2021 diwisudakan. “Karena pemerintahannya mengambil bagian,” kata Obed.

Ia mengherankan sikap abai tersebut. Sebab katanya, jika hal itu dikarenakan adanya pandemi Covid-19, itu dinilainya tidak termasuk. Para guru itu sendiri berkilah dengan menyatakan mereka terdaftar sejak Tahun 2018. “Hanya satu semester yang dibiayai pemerintah. Untuk semester pertama. Tapi kami tetap mengucapkan terimakasih,” katanya.

“Sebenarnya pemerintah bisa punya peran untuk terlibat dalam hal mempercepat proses wisuda kami. Supaya jangan kami berdampak pada aturan penyerataan,” sambung Obed.

Tim Inisiasi yang ada saat ini dinyatakannya bergerak mencari donatur dan telah menemui beberapa pihak baik Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, DPRD Kabupaten Mimika, Bagian SDM di Setda, BKD, Lemasko dan Lemasa.

“Terakhir ke YPMAK dan itu mereka menanggapi. Dengan menyatakan 64 orang khusus OAP itu akan dibiayai. Namun belakangan terbentur aturan mengenai kemana pembiayaan itu diberikan, karena mereka juga takut terbentur aturan sendiri,” ungkapnya.

Mengenai hal ini, pihaknya juga memastikan telah mengkomunikasikannya dengan Uncen. Dan hal ini ditanggapi dengan baik oleh Rektorat Uncen dan Dekanat FKIP Uncen. Rencananya, Selasa (1/12) nanti, pihaknya akan menemui Dekan FKIP Uncen yang rencananya akan datang ke Timika.

“Kami lagi menunggu Pak Dekan datang ke Timika. Karena persoalan ini akan beliau urus dan tidak mewakilkan siapa-siapa. Dan beliau akan ambil kebijakan sendiri sebagai pimpinan fakultas,” terangnya.

Adapun mahasiswa yang belum diwisuda disebutnya mencapai 107 orang, dimana 64 orang diantaranya adalah mahasiswa asli Papua. Total keseluruhan mahasiswa dalam kelompok ini berjumlah 153 orang dimana 46 orang lainnya telah diwisuda dengan pembiayaan pribadi. Para guru terbagi di tiga wilayah yakni pegunungan, pesisir dan perkotaan. (dcx)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *