oleh

Operasi Penembakan di Papua Dinilai Tak Selesaikan Persoalan.Komnas HAM Papua Usul Pelumpuhan atau Penangkapan

TIMIKA – Seluruh operasi militer di Papua diminta dijalankan secara terukur. Sebab dalam dua penembakan terhadap dua katekis yang terjadi beberapa waktu lalu disebut dijalankan secara salah. Hal ini disampaikan Kepala Kantor Komnas Ham Perwakilan Papua, Frits Ramandey, Sabtu (28/11).

Frits menerangkan, jika operasi keamanan di Papua masih dijalankan secara kacau balau, itu akan menimbulkan sikap antipati. Hal itu akan menyebabkan situasi tambah rumit seperti menimbulkan dendam. “Kalau sudah begitu tidak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya.

“Karena itu seluruh operasi di Papua, bahkan jika sudah masuk ke markas Goliat Tabuni, Enden, Purun Wenda, Egiyanus Kogoya atau Demi Yogi, jangan lakukan penembakan. Walaupun orang tersebut ada di markasnya. Tidak bisa,” sambungnya.

Ia menilai, dalam sebuah operasi yang dilakukan harusnya ada mapping dan tapping. Hal itu dinilai penting. “Lebih baik dilumpuhkan daripada ditembak mati,” katanya.

Jika militer di Papua mengutamakan penembakan yang membuat orang meninggal, maka, operasi tersebut tidak akan berlanjut. Dalam artian, tidak dapat mengungkap jaringan lainnya.

“Karena penembakan mematikan itu alternatif terburuk dan paling terakhir,” tegas Frits.

Dalam operasi keamanan diharapkannya yang berjalan adalah operasi pelumpuhan atau bahkan penangkapan. Komnas HAM disebutnya mengapresiasi apa yang pernah dilakukan Satgas Nemangkawi, dengan menangkap seorang security Freeport yang dinilai punya peran strategis.

“Nah operasi seperti itu operasi penting. Untuk apa? Untuk menangkap orang itu hidup-hidup lalu mengungkap jaringannya. Bukan menggunakan teropong, orang hanya pegang senapan molo (menyelam) lalu disikat. Itu tidak bisa,” jelasnya.

“Ingat bahwa Papua itu bukan daerah konflik sehingga satgas boleh melakukan operasi sembarang. Papua itu wilayah rawan konflik. Jadi dia akan meletup suatu ketika. Makanya Komnas Ham selalu mengusulkan operasinya harus terukur,” tutupnya. (dcx)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *