oleh

Neraca Bahan Makanan: Dominan Suplai dari Luar

TIMIKA – Ketersediaan pangan di Kabupaten Mimika mencukupi. Hanya saja kebutuhan itu masih lebih banyak disuplai dari luar Mimika. Ini menjadi gambaran dari Neraca Bahan Makanan (NBM) dan Pola Pangan Harapan (PPH) yang disusun oleh Dinas Ketahanan Pangan Mimika bekerjasama Badan Pusat Statistik (BPS).

Penyusunan dokumen NBM dan PPH ini sudah mencapai tahap akhir ditandai dengan seminar akhir yang digelar Jumat (11/12) di Ruang Pertemuan Dinas Ketahanan Pangan. Kegiatan dibuka oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Mimika, Ir Syahrial, MM . Kepala BPS Mimika, Trisno L Tamanampo hadir sebagai pemateri didampingi Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, I Nyoman Dwitana. Seminar akhir ini juga diikuti berbagai instansi yang ikut terlibat dalam penyusunan dokumen.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Mimika, Ir Syahrial, MM dalam sambutannya mengatakan dalam penyusunan program pembangunan ketahanan diperlukan analisis kebutuhan dan ketersediaan pangan yang disajikan melalui neraca bahan makanan.

Untuk itu Syahrial menekankan agar penyusunan neraca bahan makanan dan pola pangan harapan dapat memberikan gambaran atau informasi ketersediaan pangan dan gizi, serta sebagai bahan evaluasi dan pengendalian serta pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pelaksanaan program ketahanan pangan bagi Pemda Mimika.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Yulius Koga menambahkan penyusunan neraca bahan makanan dilakukan setiap tahun. Mengenai ketersediaan pangan sendiri kata dia sangat mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Hanya saja lanjut dia sebagian besar komiditi masih didatangkan dari luar terutama beras yang memang belum diproduksi secara mandiri di Mimika. Kemudian juga buah-buahan berdasarkan data Tahun 2019 lalu, kebutuhan di Mimika mencapai 11.725 ton namun hanya 4.250 ton yang bisa disediakan sendiri di Mimika, selebihnya dari luar. Ini karena kondisi geografis Mimika dimana tidak semua jenis buah cocok dibudidayakan.

Sementara sayuran sendiri dari konsumsi 15 ribu ton, sisa 2.250 yang didatangkan dari luar. Hanya jenis sayur tertentu seperti kentang dan wortel. Namun komoditi seperti telur ayam sudah surplus karena produksi mencapai 19 ribu ton sementara kebutuhan 13.500 ton per tahun. Masih ada 6.200 ton yang bisa diekspor ke luar daerah.

Perikanan yang memiliki potensi besar. Pada Tahun 2019, Mimika menghasilkan 53 ribu ton ikan. Yang dikonsumsi hanya 6.500 ton. Sementara yang lainnya dikirim, namun hanya berupa ikan segar bukan dalam bentuk produk olahan.

Yulius Koga menambahkan kebutuhan pangan di Mimika tinggi, namun untuk beberapa komoditi masih didatangkan dari luar terutama beras karena ketergantungan masyarakat. Padahal pangan lokal seperti umbi-umbian banyak tersedia. Sehingga ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal. (sun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *