oleh

Tak Ada Alat Pendukung Belajar Online, SMP Negeri Ayuka Libur Sejak Awal Pandemi

TIMIKA –  Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri Ayuka, Engelbertus Ngutra mengungkapkan, sekolahnya telah menjalankan libur sekolah sejak adanya pandemi. Pembelajaran online diakui tak bisa dijalankan. Bukan hanya karena ketiadaan alat, langkanya penggunaan handphone dan sulitnya sinyal membuat siswa kini menjalani libur hingga masuk semester ketiga.

Engelbertus Ngutra yang ditemui wartawan di Jalan Budi Utomo, Selasa (12/1) siang mengatakan, memang rencananya sekolah dalam waktu dekat akan dibuka. Tepatnya pada 12 Januari atau saat wawancara ini dilakukan. Namun kini, kenyataannya rencana sekolah tatap muka diundur lagi.

Berkaitan hal itu, ia menilai, pihak sekolah masih akan menunggu persetujuan para orang tua siswa. Meski begitu ia mengaku pesimis jika orang tua membolehkan anaknya belajar di sekolah lagi. Sebab belum ada kejelasan mengenai siapa yang akan bertanggungjawab jika siswa terjangkit Covid saat bersekolah.

“Orang tua tidak mau anaknya mendapat penyakit Covid sekalipun dari dinas (pendidikan) itu mengusulkan. Mereka tidak (akan) menerima (usul) itu. Kalau terjadi apa apa di sekolah yang bertanggung jawab siapa. Jelas orang tua tidak mau anaknya masuk sekolah kalau belum ada instruksi dari Menteri Pendidikan atau yang terpandang di daerah ini. Kami, guru, lebih khusus di Ayuka, tidak bisa memaksakan anak datang ke sekolah, (orang tua) mereka takut,” ungkapnya.

Tapi, ia mengaku pihaknya sempat mencoba mengadakan pertemuan dengan tatap muka bersama siswa. Siswa yang hadir dalam pertemuan tersebut dibatasi hanya sampai empat hingga lima orang. Pembelajaran tatap muka itu disebutnya dilakukan pada November hingga pertengahan Desember lalu. “Tapi karena kasusnya kami dengar meningkat, makanya itu kami hentikan,” kata Engelbertus.

“Sampai kini, guru-guru diminta datang ke sekolah, tapi bukan bertemu siswa, hanya mengecek keadaan saja,” sambungnya

Siswa di SMP Negeri Ayuka disebutnya hanya berkisar 36 orang. Dimana jumlah itu sudah keseluruhan dari kelas 7 – 9.

Disisi lain ia mengaku tak bisa menerapkan pengajaran online. Hal itu diakuinya lantaran sekolah tak memiliki alat memadai. Selain itu, ia menyatakan, tak banyak orang tua dari siswa yang menggunakan handphone. Ditambah, susahnya jaringan telekomunikasi di wilayah itu. “Jadi mereka libur. Sampai sekarang ini,” tutupnya.(dcx)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *