oleh

Korban Gempa Disebut Kekurangan Makanan Siap Saji dan Air Bersih

TIMIKA – Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Mimika berencana memperpanjang masa penggalangan dana bagi korban bencana di Majene, Sulbar. Hal itu diungkapkan Ketua Baznas Mimika, H Umar Habib, Minggu (17/1) sore. Ia beralasan, pihaknya kurang melakukan pencarian dana sebab seringnya turun hujan.

Tapi, ia memastikan, pihaknya melalui beberapa relawan Baznas tetap berusaha menggalang dana masyarakat untuk korban gempa. Disebutnya, beberapa hari lalu, relawan mendapatkan dana masyarakat hingga mencapai Rp 10 juta. Minggu pagi juga relawan dapat mengumpulkan sekitar Rp 6 juta.

“Kami sudah kirim sebesar Rp 13 juta. Masih ada uang yang kita mau perbaiki dulu karena kebanyakan kusut. Besok baru kami kirim lagi,” katanya.

Ia menjelaskan, situasi bagi korban gempa di Majene-Mamuju Sulbar cukup memprihatinkan. Sebab, diungkapkan, ada beberapa kasus penjualan mie instan, yang mana satu bungkusnya mencapai harga Rp 10 ribu.

Umar Habib menyampaikan, memang ada beberapa bantuan yang dipastikan dalam perjalanan. Namun, katanya, kebanyakan adalah beras. Hal itu dinilai tidak praktis, sebab ia menilai masyarakat korban gempa kebanyakan membutuhkan makanan instan seperti roti dan makanan kaleng.

“Kami mendapat informasi juga bahwa di sana air bersih sangat kurang, toko pun kebanyakan tutup. Dan sampai pukul dua siang tadi tidak ada aktivitas alias lumpuh,” ungkapnya.

Namun, ia menyampaikan, Baznas Mimika sendiri sudah mulai menerima bantuan. Dua yang disebutkan ialah dari berbagai pedagang di Pasar Sentral yang menitipkan uang sejumlah Rp 6,7 juta. Ditambah sebuah majelis pengajian yang diisi sejumlah ibu-ibu dari SP 2.

Di luar itu ia menyebut ada sejumlah organisasi yang menggalang dana bantuan. Namun ia belum menerima informasi pasti. Apakah bantuan itu akan disalurkan sendiri atau melalui pihaknya.

Informasi langsung yang diterima dari Majene oleh seorang warga bernama Imran, yang juga wartawan di media lokal Sulbar menyatakan, kebanyakan masyarakat kini mengungsi ke wilayah lain. Bukan karena menghindari gempa susulan, tetapi karena tiadanya makanan. Ia juga menilai bantuan juga datang sangat terlambat. (dcx)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *