oleh

Fenomena La Nina, Masyarakat Perlu Lebih Waspadai

TIMIKA – Masyarakat di Kabupaten Mimika diimbau untuk lebih mewaspadai adanya dampak yang ditimbulkan dari fenonema La Nina di bulan Januari 2021 ini. Walaupun musim hujan disertai dengan angin kencang diprediksi berlangsung mulai Desember 2020 hingga Februari 2021. Berbeda di Timika yang mengalami puncak hujan mulai bulan Juni sampai Agustus, namun dampaknya yang perlu diwaspadai dengan kehadiran fenomena La Nina.

Hal itu diungkapkan Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Tesla Kadar Dzikiro, Selasa (19/1). Diungkapkanya jika di daerah lainya di luar Timika, banjir disebabkan karena hujan lebat karena puncak musim hujan ditambah lagi dengan fenomena La Nina.

Namun untuk di Timika, karena saat ini bukan puncak musim hujan, fenomena La Nina-lah yang harus diwaspadai kerena akan menyebabkan hujan terus terjadi.

“Di Timika karena bukan puncaknya musim hujan, namun La Ninalah yang menyebabkan hujan terus menerus khususnya di sore dan malam hari,” ujarnya.

Lanjutnya, dengan fenomena La Nina, awan-awan akan tumbuh di daerah Tembagapura, Jila, Agimuga dan Mimika Barat dan didorong oleh angin lembah maka hujan akan turun ke Timika pada waktu sore hari. Jadi jika di daerah pegunungan, sebutnya sekitar jam 14.00 sudah terjadi hujan. Hujan akan sampai ke Timika sekitar pukul Rp 15.00 wit-19.00 wit.

“Jam tiga sampai tujuh malam itu yang harus diwaspadai, karena awan konfektif akan turun dari atas ke bawah,” jelasnya.

Selain mewaspadai hujan di sore dan malam hari, untuk hujan yang terjadi di pagu hari kata Tesla juga harus tetap diwaspadai. Sebab, hujan di pagi hari ini banyak terjadi di wilayah pesisir. “Yang terkena efek hujan di pagi hari itu di wilayah pesisir, yakni nelayan-nelayan,” jelasnya.

Hujan terus menerus ini tambah Tesla, masih akan terjadi sampai bulan Maret.

Sementara itu, Muhammad Inggit Rizki Ansori, yang juga adalah Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Selasa (19/1) mengatakan,  secara umum Indonesia memasuki musim penghujan. Namun di Mimika, katanya, mempunyai perbedaan tipis mengenai musim hujan dan panas.

“Prospek cuaca mingguan untuk di Timika sendiri seminggu kedepannya itu masih ada potensi hujan ringan hingga lebat. Dan itu bisa disertai angin kencang hingga petir,” ujar Rizki.

“Bahkan di akhir bulan atau Minggu ke empat itu juga masih ada potensi hujan ringan hingga lebatnya juga,” sambungnya.

Rizki menyebut, gelombang rendah diperkirakan masih akan berlaku untuk perairan Amamapare Timika. Tinggi gelombang hingga sepekan ke depan diperkirakan hanya berkisar 0,25 hingga 1,25 meter. Hal itu dikatakannya terjadi hingga akhir bulan.

“Untuk sekarang kalau perahu nelayan masih aman untuk berlayar. Kalau sudah lewat dari itu ya diimbau waspada,” kata Rizki lagi.

Ia sendiri menyebut memang agak bertolak belakang sebab kondisi umumnya adalah hujan tetapi gelombang tidak tinggi. “Itu curah hujan kan dari atmosfernya. Kalau gelombang perairan itu berdasarkan model yang kita sudah buat memang seperti itu tidak terlalu signifikan. Karena yang perlu diantisipasi adalah yang terjadi di darat seperti banjir,” jelasnya.

Rizki berharap dengan penjelasan ini, kewaspadaan akan potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi apabila ada hujan lebat dengan intensitas ekstrem yang disertai juga petir dan angin kencang. Masyarakat diimbau untuk selalu bersiap siap dengan minimal membersihkan saluran air dan sedia payung atau rain coat saat hendak bepergian.

Sedangkan untuk prakiraan gelombang perairan, ia mengharapkan nelayan selalu memantau radio dan mengontak Syahbandar. Sebab ia mengaku pihaknya sering memberikan informasi tentang gelombang ke Syahbandar. “Kita juga dapat diketahui informasinya di radio dan media sosial seperti Instagram,” tutupnya. (ami/dcx)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *