oleh

Rapid Test Tidak Jadi Penghalang Pemulangan Warga Tiga Kampung

TIMIKA – Rapid test sebagai syarat warga tiga kampung untuk bisa naik ke Tembagapura tidak menjadi penghalang baru bagi kepulangan mereka ke kampung halamannya. Warga Kampung Banti I, Banti II dan Opitawak yang sudah hampir setahun berada di kota Timika, harus dipulangkan kembali walaupun kini masih adanya pandemi Covid-19.

Politisi Partai Golkar, Anthon Bukaleng di Kantor DPRD, Senin (18/1) mengatakan proses pemulangan warga tiga kampung di Distrik Tembagapura diharap tidak terhalang dengan rapid test Covid-19.

Dengan penerapan protokol kesehatan, salah satunya rapid test kata Anthon, diharapkan dapat dipermudah agar warga bisa segera kembali ke kampung halaman mereka.

“Itu kan tanggung jawab pemerintah untuk antar pulang masyarakat itu, jangan jadikan rapid test jadi hambatan untuk mereka naik,” harapnya.

Dikatakan Anthon, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memulangkan warga sesuai instruksi bupati pekan lalu. Walaupun secara bertahap, kata Anthon warga tiga kampung ini harus tetap dikembalikan dalam waktu dekat.

Warga kata Anthon, punya kerinduan yang sangat besar untuk pulang ke kampung halamannya. Pemerintah pun harus memfasilitasi masyarakat dengan memastikan fasilitas terutama tempat tinggal warga sudah diperbaiki.

Ia membeberkan keinginan warga untuk segera naik ke kampung halamannya di Distrik Tembagapura sudah tidak terbendung lagi, bahkan warga ingin swadaya berjalan kaki balik ke gunung emas itu. Hal ini juga sejalan dengan instruksi Bupati Mimika Eltinus Omaleng yang sudah merestui kepulangan ribuan warga ke kampungnya itu.

Lagi kata Anthon Bukaleng, pemerintah diminta untuk mengakomodir keinginan sederhana warga itu tanpa membebani dengan persyaratan yang berbelit. Apalagi dengan alasan harus melakukan rapid test, yang dinilainya pasti ditolak warga bersangkutan karena ketidak-biasaan atau bukan hal yang menjadi budaya mereka.

Ia mewanti-wanti pemerintah segera menanggapi permintaan warga itu, sebelum aksi-aksi demo berlanjut seperti yang sebelumnya, menuntut kepulangan mereka direalisasi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Ia yakin warga bisa beradaptasi walaupun rumah-rumah mereka masih rusak dan belum rampung direnovasi. Hal ini diyakini Anthon, karena aktifitas warga di ‘atas’ yang sudah menyatu dengan alam, warga bisa beternak dan bertani untuk menghidupi keseharian mereka sambil proyek pengerjaan renovasi perumahan warga itu dijalankan pemerintah melalui PT Freeport Indonesia.(ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *