oleh

Soal Warga Banti, Pemda Tidak Lepas Tangan

TIMIKA – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika memastikan tidak lepas tangan dalam menangani warga Banti, Distrik Tembagapura. Hal itu ditegaskan Wakil Bupati (Wabup) Mimika, Johannes Rettob, SSos MM ketika ditemui di Pendopo pada Rabu (17/2) lalu.

Wabup Rettob beberapa waktu lalu mendampingi Wakil Menteri PUPR, Jhon Wempi Wetipo bertemu warga Banti dan melihat kondisi di sana. Pemerintah kata dia sudah berkomitmen bersama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) dan pemerintah pusat untuk memulihkan kembali Banti seperti sediakala.

Pemda Mimika membuat proposal ke Kementerian PUPR untuk bantuan perumahan khusus bagi masyarakat. Juga perbaikan infrastruktur jalan di sekitar kampung dan juga akses di luar jalan tambang. “Sekitar kampung kita rapikan. Masalah air bersih. Listrik kalau sudah selesai, kita berpikir jangan lagi ditangani PTFI. Apakah diserahkan ke PLN supaya dikelola. Pembangkit listrik mikro hidro,” terangnya.

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika, Yulianus Sasarari ditemui Kamis (18/2) kemarin juga menegaskan hal yang sama. Ia mengatakan kunjungan beberapa waktu lalu merupakan wujud kepedualian dan perhatian dari pemerintah pusat, Pemda Mimika dan PTFI.

Pemda Mimika lanjutnya juga mendistribusikan logistik bahan makanan bagi masyarakat. Jangka waktu dan besaran kebutuhan disesuaikan dengan laporan kepala distrik. Layanan kesehatan juga dilakukan dimana Dinkes mengirimkan tim untuk pelayanan langsung di sana.

Mengingat akses masyarakat ke area Kota Tembagapura sangat terbatas bahkan tertutup karena aturan perusahaan menyangkut pemeriksaan kesehatan, Pemda Mimika kata Sasarari juga sudah berkoordinasi dengan Bank Papua agar bisa hadir langsung di Banti untuk melayani masyarakat.

Sasarari mengatakan, pemulihan Banti membutuhkan proses. Perlu ada penyusunan perencanaan mengenai kebutuhan. Perhitungan sudah dilakukan khususnya perubahan bagi warga. Berapa yang harus direhab dan dibangun baru.

Berdasarkan laporan dari kepala distrik diungkapkan Sasarari, memang masih ada sebagian masyarakat yang tinggal di sekolah sebagai tempat hunian sementara. Ada juga yang kembali ke rumah karena secara mandiri sudah perbaiki dan merapikan rumahnya. Aktivitas masyarakat disebutkan juga sudah berangsur normal seperti berkebun.(sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *