oleh

Anggrek Lokal Timika perlu Dilestarikan

TIMIKA – Anggrek Papua khususnya anggrek lokal yang tumbuh di hutan-hutan dataran rendah dan dataran tinggi di Kabupaten Mimika, mempunyai keelokan bentuk bunga dengan bermacam corak sehingga menjadi daya pikat tersendiri. Hal itu membuat anggrek Papua banyak diminati. Anggrek sendiri merupakan tumbuhan perlu diperhatikan kelestariannya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Timika, Bambang Lakuy, Kamis (4/3) mengatakan penangkaran dapat menjadi alternatif yang tepat dalam upaya menjaga kelestarian anggrek Papua. Penangkaran merupakan proses pengembangbiakan dan pembesaran anggrek dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Tentunya, penangkaran yang legal memerlukan perizinan agar pengelolaannya sesuai dengan prosedur.

Untuk itulah, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, mengunjungi para penangkar anggrek di Timika. Edward memberikan pengarahan kepada para penangkar mengenai perizinan penangkaran anggrek.

“Semoga dengan adanya upaya penangkaran ini anggrek Papua dapat terjaga kelestarian dan kemurnian jenisnya,” ujar Edward.

Senada dengan hal itu, Bambang mengatakan penangkaran anggrek yang ada di SP 3 ini masih berproses dan sampai kini masih menunggu rekomendasi dari pusat. Adapun proses dan syarat-syarat adanya kegiatan penangkaran itu semua sebutnya, sudah dipenuhi. Dengan kunjungan Kepala Balai Besar KSDA Papua ini memastikan kegiatan tersebut sudah sesuai dengan yang dilakukan.

Dikatakan Bambang, pemanfaatan dan tumbuhan satwa liar ini harus melihat aturan yang berlaku sehingga hal ini tidak berbenturan. “Silahkan saja jika ada pemanfaatan tersebut, namun tentunya dilihat juga rambu-rambu dari sisi regulasinya seperti apa,” jelasnya.

Lanjutnya, jika sudah adanya penangkaran anggrek maka hal-hal apa yang harus dipenuhi inilah yang menjadi konsen yang disampaikan kepada penangkar.

Dengan adanya perhatian tumbuhan dan satwa liar yang menjadi domain BKSDA kata Bambang, memang belum semua dilakukan penelitian khusus jumlahnya di alam berapa dan sebagianya. Maka hal ini, perlu ada kontrol dari pihaknya terkait dengan pemanfaatannya. Penangkaran dengan kegiatan budi daya dengan pengembangbiakan bisa diperjualbelikan jika sudah ada keturunan berikutnya.

Khusus untuk penangkaran anggrek di SP 3 ini, jenis yang ada adalah anggrek lokal Timika yang didapat dari dataran rendah sampai ke dataran tinggi. Dengan masih jenis-jenis anggrek yang belum diketahui dan tidak umum diketahui oleh masyarakat, maka diperlukan perhatian dari masyarakat dan ikut menjaga kelestariannya.

“Konsen BKSDA adalah kegiatan budi daya ini bisa dilaksanakan tentunya dengan norma dan regulasi yang ada. Jadi budi daya bisa berjalan, kita juga punya fungsi kontrol untuk pengawasan supaya tidak ada penyalahgunaan,” imbuhnya.(ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *