oleh

Sempat Dipalang, Jalan Poros Pomako Akhirnya Dibuka Wabup Turun Langsung untuk Membuka Palang

TIMIKA – Ruas jalan yang menghubungkan Kota Timika dengan Kawasan Pelabuhan Pomako, Senin (8/3) kemarin sempat lumpuh lantaran terjadi aksi pemalangan yang dilakukan sekelompok warga, tepatnya di Kampung Cenderawasih.

Wakapolres Mimika, Kompol Sarraju, SH yang ditemui wartawan di lokasi kejadian kemarin, menjelaskan penyebab terjadinya pemalangan tersebut, lantaran sebelumnya ada seorang oknum warga yang mabuk melakukan aksi palang-palang jalan yang berujung pada terjadinya tindak pidana penganiayaan, dan pengeyorokan terhadap oknum warga yang mabuk tersebut.

“Kemarin malam ada kejadian diawali dari adanya satu orang yang dipengaruhi minuman keras, kemudian menghentikan kendaraan dan terjadi percekcokan. Orang mabuk tersebut dianiaya dan kembali memanggil rekan-rekannya kemudian melakukan pembalasan,” jelas Wakapolres.

Lebih lanjut Kompol Sarraju, bahwa setelah mendapatkan informasi tersebut, personel dari Polsek KP3 Kawasan Pelabuhan Pomako dan Polsek Miktim mendatangi TKP untuk melakukan komunikasi dengan warga setempat.

Namun selang beberapa waktu kemudian, terjadi keributan yang berakibat satu warga yang diketahui bernama Andreas mengalami luka tembak dan harus mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika.

“Dari Polsek mendatangi TKP berkomunikasi dengan warga, tapi kemudian ada kejadian sampai mengakibatkan ada salah satu warga luka dan ada yang terkena tembakan. Korban ada di RSUD yang terkena tembakan dan sudah menjalani operasi. Kondisinya masih dalam penanganan dokter,”ujar Wakapolres.

Kemudian ketika ditanyai terkait siapa pelaku penembakan terhadap korban Andreas, Wakapolres mengatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan dan pendalaman lebih lanjut.

“Kalau hal itu mungkin nanti akan dilakukan pendalaman ya. Kira-kira kalau terkait dengan aparat, nanti satuan-satuan yang berkepentingan yang nanti akan melakukan penyelidikan lanjut,” sambungnya.

Sementara terkait dengan kasus pengeroyokan awal, Wakapolres mengungkapkan pihaknya telah mengamankan lima orang pelaku yang diduga terlibat dalam kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang berakibat pada terjadinya keributan yang berujung pada aksi pemalangan itu.

“Kalau lima orang yang diamankan itu terkait dengan kejadian awal, yang akhirnya terjadi penganiayaan. Sementara oknum masyarakat yang terpengaruhi miras ini kemudian memulai masalah, akhirnya terjadi kekerasan terhadap yang bersangkutan. Kondisinya juga tidak ada yang fatal, kita sudah amankan juga di Polsek Miktim yang memulai masalah ini. Kita akan lakukan penyelidikan lebih lanjut, kalau terkait dengan adanya pelanggaran hukum ya kita sesuaikan dengan ketentuan yang berlaku,” sebut Kompol Sarraju.

Sementara terkait dengan satu korban yang terkena tembakan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI, yang berujung pada terjadinya pemalangan ruas jalan raya di sekitar TKP dan sekelompok warga yang melakukan aksi pemalangan tersebut meminta pembayaran ganti rugi, senilai Rp 5 miliar.

“Itu yang mereka sampaikan. Menurut apa yang mereka sampaikan, bahwa yang melakukan penembakan itu diproses hukum, kemudian mereka minta tuntutan ganti rugi Rp 5 miliar. Kami sampaikan, ini hal yang perlu kita komunikasikan terkait dengan tuntutan itu. Kalau proses hukum, saya kira itu sudah jadi hal yang normatif di negara ini, tapi itukan ada tahapannya. Ada tahapan penyelidikan, pemeriksaan, kemudian ada kesimpulan kalau memang ada hal-hal yang bersifat melangar hukum. Kalau memang ada, saya kira itu akan berjalan,” ungkap Kompol Sarraju.

Sementara itu untuk memastikan situasi Kamtibmas di lokasi kejadian tetap aman dan kondusif, maka Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob yang didampingi Dandim 1710/Mimika, Letkol Info Yoga Cahya Prasetya dan beberapa pejabat di lingkup TNI AD, kemarin siang langsung mendatangi TKP untuk bertemu dan berdialog dengan warga yang melakukan aksi pemalangan tersebut.

Di hadapan masyarakat, Wabup mengatakan ia telah bertemu langsung dengan keluarga korban di RSUD Mimika dan untuk masalah pembiayaan akan menjadi tanggung jawab penuh pihaknya.

“Kalau terkait dengan dugaan penembakan, kita pasti akan proses sesuai dengan hukum. Tidak perlu kuatir, saya ada bawa pak Dandim, pak Danyon, pak Dan Sub Denpom lalu ada juga dari Kepolisian ini lengkap semua. Prinsipnya sudah kita bahas secara internal. Jadi semua yang sesuai tuntutan kalian, mari kita bicara baik-baik pasti ada solusinya,” kata Wabup.

Dandim juga menyampaikan bahwa kejadian penembakan yang dialami korban Andres merupakan musibah yang tidak diinginkan bersama. Namun ia berjanji bahwa pihaknya akan melakukan proses penyelidikan dan penyidikan terkait kasus penembakan tersebut.

“Ini musibah dan kita semua menyayangkan hal itu. Dan saya tegaskan bahwa siapapun yang menembak, akan kita selidiki dan akan kita proses. Saya sudah komitmen dengan bapak Kapolres. Untuk tuntutan yang lain, nanti kita rembuk bersama,” tegas Letkol Yoga.

Di hadapan masyarakat, Dandim juga berharap agar apabila nanti ada lagi oknum masyarakat yang kedapatan mabuk, masyarakat segera melaporkan kepada pihak kepolisian maupun Babinsa setempat.

“Kalau ada yang mabuk, tangkap bawa ke mile 32. Kalau itu oknum anggota TNI, laporkan saya nanti saya yang tindak,” ucap Letkol Yoga.

Dalam kesempatan itu juga beberapa perwakilan dari keluarga korban meminta kepada Wabup, Dandim dan beberapa pejabat TNI yang hadir di lokasi pemalangan agar dapat mengusut tuntas kasus penembakan terhadap korban Andreas. Dan mereka juga meminta agar tuntutan ganti rugi senilai Rp 5 miliar itu untuk tindak lanjuti.

Setelah berdialog dan bernegosiasi, palang akhirnya dibuka sekitar pukul 14. 54 WIT. Sementara Wabup yang ditemui wartawan di lokasi kejadian, mengatakan masyarakat menuntut agar proses kejadian penembakan terhadap korban Andres dapat diusut sampai tuntas.

“Karena berharap bahwa proses penembakan dapat dilakukan pengusutan secara tuntas. Mereka juga berharap agar anak ini (korban, red) bisa sembuh, dan saya sudah kasih jaminan bahwa dokter sudah nyatakan anak itu pasti dalam kondisi baik. Proses-proses tuntutan seperti ini sudah saya sampaikan bahwa semuanya bisa kita bicarakan baik,” jelasnya.

Wabup juga memastikan akan menindak tegas apabila ada peredaran minuman beralkohol tanpa izin di wilayah Pomako. Hal itu sekaligus menanggapi penyampaian masyarakat yang mengeluhkan peredaran minuman keras yang memicu terjadinya sejumlah keributan.

Wabup John Rettob juga menekankan akan menindak para pelaku usaha yang menjual minuman beralkohol tanpa izin tersebut. “Bisa dicabut usahanya. Karena kita di sini mau hidup bersama masyarakat dengan baik. Jangan buat susah-susah sudah,” ujarnya.

“Ini tanggapan atas penyampaian dari Pastor dan Kepala Kampung. Tolong masyarakat beritahukan ke aparat TNI-Polri, atau sampaikan langsung ke saya, supaya kita proses. Jangan takut dan jangan juga sembunyi-sembunyikan informasi,” sambung Wabup John Rettob.

Sementara itu, Kepala Kampung Poumako, Jhon Yohanes Yakiwur berharap Pemda tidak hanya mencegah peredaran miras tanpa izin, tetapi juga memperhatikan masyarakatnya khususnya pemuda yang pengangguran. Sebab ia menilai, hal-hal negatif bermula dari masyarakat yang tidak punya pekerjaan dan akhirnya mengonsumsi minumkan keras.

“Kami berharap pemuda dan anak-anak dapat fasilitas untuk bekerja. Kalau ada pekerjaan, saya kira mereka sudah tidak ada punya alasan untuk buat hal-hal negatif. Hal itu, nanti bisa membuat perubahan dan pembangunan di wilayah Pomako ini,” kata Yohanes Yakiwur.

Sementara itu dari pantauan Radar Timika di lokasi kejadian, hingga pukul 16. 00 WIT, aparat keamanan masih terus berjaga-jaga mengantisipasi hal-hal yang dapat menganggu kembali situasi Kamtibmas.(tns/dcx)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *