oleh

Keluarga Korban Kasus Pencabulan di Taruna Papua datangi YPMAK

TIMIKA – Ratusan orang yang merupakan keluarga, kerabat serta orang tua dari pelajar Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) yang menjadi korban pencabulan dan kekerasan, Senin (15/3) kemarin mendatangi kantor Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK) di Jalan Yos Sudarso.

Kedatangan mereka guna menyampaikan aspirasi terkait adanya kasus pencabulan dan kekerasan yang terjadi di sekolah berpola asrama yang dilakukan oleh tersangka DFL, yang merupakan oknum pembina di asrama SATP tersebut. Dan kedatangan mereka diterima langsung oleh Direktur YPMAK, Vebian Magal.

Dalam aspirasinya, massa menyampaikan pernyataan sikap yang tertuang dalam empat poin. Yakni meminta agar segera menghentikan sementara waktu setiap aktivitas di Sekolah Asrama Taruna Papua, dan segera mencabut kerjasama YPMAK dengan Yayasan Lokon, serta mengembalikan pengelolaan sekolah ke YPMAK.

Kemudian poin kedua yakni harus ada tim pencari fakta yang netral, untuk mengawal kasus tersebut. Lalu poin ketiga yakni trauma healing untuk anak-anak yang menjadi korban. Dan poin yang keempat yakni meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan hukum yang berlaku.

Direktur YPMAK Vebian Magal di hadapan massa meminta agar ada perwakilan dari massa yang melakukan pertemuan dengan pihak YPMAK untuk sama-sama membahas persoalan yang terjadi di SATP itu.

“Karena ini lembaga, makanya harus kita diskusi baik cari solusi bersama. Kita harus kerja sama antara lembaga dengan keluarga untuk dapatkan solusi seperti apa, sehingga itu menjadi keputusan bersama. Ini masalah besar, makanya kami lihat secara baik kemudian memutuskan untuk masa depan kita bersama,” jelas Vebian Magal.

Dalam kesempatan itu juga ia menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan orang tua murid yang telah mendatangi YMPAK untuk menindak lanjuti kasus yang menimpa anak-anak mereka.

“Terima kasih sudah datang, itu artinya kepedulian. Makanya kita harus kerja sama antara masyarakat, swasta dan pemerintah untuk ciptakan SDM yang berkualitas. Terima kasih semua aspirasi sudah saya terima untuk kita cari solisi sama-sama,” ucapnya.

Sementara perwakilan dari orang tua murid, Adolfina Kum yang ditemui wartawan di halaman kantor YPMAK mengatakan siapapun yang datang ke Kabupaten Mimika ini harus menghargai kehidupan masyarakat Amungme dan Kamoro.

“Siapapun yang datang ke sini harus hargai hukum adat di sini. Lalu dalam tuntutan kami juga, sudah sampaikan harus ada trauma healing untuk anak-anak kami,” tegasnya.

Adolfina Kum juga menegaskan bahwa pihaknya akan mendatangkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk mengawal proses hukum kasus pelecehan dan kekerasan tersebut.

“Betul dan kami akan koordinasi dengan teman-teman di LBH yang ada di Jayapura, bila perlu sampai di Jakarta. Perlu kami datangkan LBH, karena ini kan sudah mengenai kasus pelecehan yang korbannya adalah anak-anak,” paparnya.

Pjs Kabag Ops Polres Mimika, AKP Ahmad Dahlan, SE menambahkan bahwa kegiatan penyampaian aspirasi oleh pihak keluarga korban dan orang tua murid di kantor YPMAK berlangsung aman dan tertib.

“Ini hanya aksi damai yang berlangsung aman dan tertib,” singkatnya.(tns/dcx)

Wabup Akan Panggil YPMAK Evaluasi Sekolah Asrama Taruna Papua

SEMENTARA itu, Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, SSos MM mengecam dan mengutuk keras tindakan pencabulan di Sekolah Asrama Taruna Papua, dan meminta adanya evaluasi terhadap pengelolaan sekolah berbasis asrama tersebut.

Wabup Rettob yang ditemui usai membuka pelaksanaan ujian sekolah SMA dan SMK di SMK Tunas Bangsa pada Senin (15/3) kemarin menegaskan bahwa Pemda Mimika sangat mengecam perilaku atau moralitas dari seorang tenaga pendidik yang sangat tidak benar.

Ia berharap pelaku diberi hukuman setimpal dengan perbuatannya. Menurutnya apa yang dilakukan sangat keji karena mengorbankan anak-anak di bawah umur yang pastinya menimbulkan trauma. “Pemerintah mengecam dan mengutuk keras perbuatan ini,” tegasnya.

Meskipun sekolah tersebut di bawah binaan yayasan, namun ditegaskan Wabup kejadian ini tetap menjadi perhatian serius bagi Pemda Mimika.

Sehingga dalam waktu dekat Wabup akan melakukan evaluasi tata kelola sekolah asrama. Juga evaluasi pengawasan yang dilakukan sehingga kejadian yang sudah berlangsung lama itu tidak pernah ketahuan.

Wabup berharap agar kejadian yang terjadi di lingkungan sekolah ini merupakan yang pertama dan terakhir di Mimika. Bukan hanya di Sekolah Asrama Taruna Papua tapi juga di sekolah lain baik yang berpola asrama maupun tidak.

Ia juga meminta masyarakat terutama orang tua murid agar tidak melakukan tindakan yang berlebih. Namun ia memahami apa yang dirasakan oleh orang tua terutama yang menjadi korban karena merasa terpukul maupun yang tidak agar menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum.(sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *