oleh

Belajar Tatap Muka Dimulai 22 Maret

TIMIKA – Menindaklanjuti kesepakatan bersama Pemda Mimika dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang memutuskan kegiatan belajar mengajar dilakukan tatap muka untuk kelas VI, IX dan XII maka Kepala Dinas Pendidikan, Jeni Usmany, SPd MPd langsung mengumpulkan para kepala sekolah baik SD dan SMP.

Jeni Usmany dalam pertemuan dengan para kepala sekolah di SMP Negeri 2 Mimika, Selasa (16/3) kemarin mengatakan bahwa belajar tatap muka kelas VI dan IX sudah diizinkan. Ia menginstruksikan kepada seluruh kepala sekolah agar mulai menerapkan itu pada Senin (22/3) mendatang. Untuk kesiapan, setiap sekolah diminta membentuk Satgas Covid-19 melibatkan guru yang tidak memiliki banyak jam mengajar.

Satgas Covid-19 di sekolah harus menyusun SOP kegiatan belajar mengajar dan menyiapkan peralatan. Dimulai dari alat pengukur suhu tubuh, masker, tempat cuci tangan dan hand sanitizer. Ruang kelas harus ditata hanya untuk kapasitas maksimal 50 persen. Jika dalam kelas ada 32 siswa maka hanya bisa 16 orang satu shift.

Aktivitas anak sejak datang di sekolah sampai pulang harus diperhatikan. Harus ada antar jemput untuk mengantisipasi anak singgah di tempat lain. Begitu tiba langsung ukur suhu tubuh. Jika suhu 37 derajat celcius maka tidak diizinkan masuk kelas. Jika suhu tubuh normal maka diperkenankan ikut belajar tatap muka. Selama berada dalam kelas, anak tidak boleh pindah tempat duduk. Sirkulasi udara ruangan harus diperhatikan, pintu dan jendela tidak boleh ditutup.

Belajar tatap muka hanya berlangsung 4 jam pelajaran dengan 2 mata pelajaran. Dimana satu jam pelajaran berdurasi 40 menit sehingga murid berada di kelas hanya 160 menit tanpa istrahat. “Tidak ada jam istrahat, selesai langsung pulang,” tegas Kadisdik, Jeni Usmany.

Selama proses belajar mengajar, guru tidak diperkenankan mendekati apalagi menyentuh murid untuk menghindari kontak langsung. Diskusi atau komunikasi dua arah harus tetap ada bahkan lebih aktif mengingat jam belajar yang sangat singkat.

Setiap kelas akan dibagi menjadi dua shift. Dengan pembagian jadwal masing-masing 3 hari dalam seminggu. Jadi shift pertama pada Senin, Rabu dan Jumat. Kemudian shift kedua, Selasa, Kamis dan Sabtu. Ini dilakukan untuk menghindari penumpukan. Meskipun ruang kelas tersedia tapi, disesuaikan dengan ketersediaan guru dimana guru lain harus tetap mengajar secara online untuk kelas diluar kelas VI dan IX.

Jeni menegaskan semua sekolah baik negeri maupun swasta harus mengikuti instruksi ini. Ia mengatakan tidak ada swab antigen terlebih dahulu karena itu hanya berlaku selama tiga hari. Jadi ia meminta seluruh sekolah tegas dalam protokol kesehatan. Bila perlu memasang CCTV untuk memantau aktivitas anak di sekolah.

Ia menambahkan, guru dan tenaga pendidik hingga operator dan penjaga sekolah mulai didaftar untuk mendapatkan vaksin Covid-19. Kesempatan kemarin, Jeni meminta seluruh kepala sekolah memasukkan data agar bisa divaksin.(sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *