oleh

YPMAK Diminta Hentikan Kerja Sama dengan Yayasan Pengelola SATP

TIMIKA – Terkuaknya kasus pelecehan seksual disertai dengan kekerasan yang menimpa 25 anak-anak di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), masih menjadi perhatian banyak pihak. Adanya kasus bejat ini mengindikasikan kegagalan pihak pengelola asrama. Untuk itulah Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) diharapkan dapat menghentikan kerja sama dengan yayasan yang mengelola asrama di SATP ini.

Ketegasan pihak YPMAK disebutkan para wakil rakyat, harus dilaksanakan karena kasus asusila ini sangat berdampak buruk pada psikologis anak-anak. Dengan adanya yayasan baru yang nantinya dapat mengelola asrama, diharapkan tidak ada lagi kasus yang sama.

Hal itu disampaikan Politisi PDIP, Karel Gwijangge, Kamis (18/3). Dikatakan Karel, bila melihat kasus yang sangat fatal ini, para orang tua siswa SATP berharap agar yayasan yang ada saat ini tidak lagi digunakan untuk mengelola asrama.

“Orang tua itu mau yayasan ini tidak boleh lagi kelola asrama ini. Harus tegas, YPMAK tidak boleh lagi ada hubungan kerja sama dengan pengelola yang sekarang,” ujar Karel.

Lanjutnya, dengan adanya kasus ini, para orang tua korban merasa terhina sebab hal yang terjadi sudah diluar batas kenormalan manusia.

Karel yang juga tokoh masyarakat ini mengungkapkan jika masyarakat tetap mendukung keberadaan YPMAK dengan program pendidikannya. SATP yang melaksanakan pembinaan anak-anak tujuh suku dari kampung-kampung ini sebutnya sangat didukung oleh masyarakat. Program ini sebutnya, adalah program yang baik dan perlu dicontoh.

Namun, dengan masalah pencabulan disertai kekerasan ini membuat masyarakat terutama orang tua sangat bersedih. Untuk itulah, ia berharap agar ada efek jera yang diberikan kepada pelaku pencabulan, dan juga tidak hanya pelaku tersebut, namun juga kepada pengelolanya.

“Orang tua itu mau pengelola asrama diganti. Kalau sudah seperti itu, pelecehan bukan saja pada anak, tapi kami. Kami sangat merasa kecewa, ini sangat disayangkan,” katanya.

Ditambahkannya, keberadaan SATP ini kedepannya diharapkan jadi parameter pendidikan untuk anak-anak tujuh suku. Ia sendiri sudah melihat secara langsung pembinaan di SATP selain dengan pendidikan, dibina juga bakat dari anak-anak. Maka, harapan orang tua agar SATP bisa lebih baik kedepannya, dan pelaku bisa dihukum sesuai aturan yang ada.(ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *