oleh

Belajar Tatap Muka Dikawal Ketat Satgas Covid-19 Sekolah

TIMIKA – Hampir setahun belajar secara online, murid kelas VI dan IX akhirnya bisa belajar tatap muka langsung dengan guru di sekolah. Belajar tatap muka dimulai Senin (22/3) kemarin di sejumlah sekolah salah satunya SMP Negeri 2 Mimika.

Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Jeni Usmany, SPd MPd yang dikonfirmasi Radar Timika belum mendapat laporan apakah semua sekolah sudah belajar tatap muka. Ia menyatakan, belajar tatap muka tergantung dari sekolah dan orang tua. “Kalau sekolah dan orang tua sudah siap maka bisa tatap muka dan harus patuhi protokol kesehatan,” ujarnya.

SMP Negeri 2 Mimika tercatat sebagai sekolah dengan murid terbanyak. Kepala SMP Negeri 2 Mimika, Mathius Sedan, SPd yang ditemui Radar Timika saat memantau jalannya kegiatan belajar mengajar mengatakan bahwa jumlah kelas IX sebanyak 454 orang.

Mengikuti aturan protokol kesehatan maka murid dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing 227 orang per kelompok. Setiap kelompok mendapat jadwal belajar tiga kali seminggu. Kelompok satu pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Kelompok dua pada Selasa, Kamis dan Sabtu.

Tidak semua mata pelajaran diberikan mengingat terbatasnya waktu. Sehari hanya 4 jam pelajaran atau hanya bisa dua bidang studi. Jadi seminggu hanya bisa 6 bidang studi. Sehingga hanya bidang studi yang akan masuk dalam ujian sekolah yang diberikan yakni PKn, IPS, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA.

Sesuai instruksi Dinas Pendidikan bahwa setiap sekolah harus membentuk Satgas Covid-19 maka SMP Negeri 2 Mimika dengan melibatkan guru langsung membentuk Satgas. Fasilitas seperti tempat cuci tangan, alat pengukur suhu tubuh, hand sanitizer dan masker disiapkan oleh sekolah.

Mathius menyatakan pada hari pertama sekolah tatap muka, ia memantau langsung sebelum pukul 07.00 WIT. Dimulai dari kedatangan, dilakukan pengukuran suhu tubuh siswa maupun guru oleh Satgas Covid-19. Tidak ada temuan siswa dengan suhu tubuh di atas 37 derajat Celcius. Kecuali yang memang sakit diminta untuk pulang sesuai surat pernyataan yang sudah ditandatangani orang tua.

Ketika berada di lingkungan sekolah, siswa hanya bisa duduk di satu bangku. Tidak ada jam istrahat. Bahkan setiap kelas dijaga ketat oleh Satgas Covid-19 sekolah. Guru tidak bisa meninggalkan kelas sebelum ada guru pengganti untuk menjaga adanya kerumunan anak dalam kelas.

Aktivitas murid selama di sekolah terus dipantau. Pada pertemuan pihak sekolah dengan orang tua juga sudah dibuat pernyataan, bagi orang tua yang punya kendaraan harus antar jemput anak. Yang tidak punya kendaraan, dipastikan langganan ojek dan disampaikan kepada pihak sekolah.

Belajar tatap muka dilakukan untuk persiapan menghadapi ujian sekolah pada 26-30 April mendatang. Jadi murid memiliki waktu sebulan kedepan untuk persiapan. Pengayaan tidak dilakukan tatap muka tapi secara online.

Mathius menambahkan, meski yang tatap muka baru kelas IX namun, kegiatan belajar bagi kelas VII dan VIII dipastikan tetap berjalan baik secara online dan offline. Yang belajar offline, datang ambil dan bawa tugas di sekolah karena tidak memiliki hand phone.

Ia mengakui selama setahun belajar secara online, memang tidak efektif. Apalagi sebagian besar orang tua tidak punya hand phone. Sehingga mau tidak mau, anak-anak datang mengambil tugas. Berbeda dengan sekolah tatap muka, dimana murid dan guru ada komunikasi dua arah dan guru bisa memantau perilaku dan sikap murid. “Jadi anak-anak terkontrol dalam sikap dan perilaku. Kadang siswa ini di sekolah dengar guru tapi di rumah kadang dia tidak dengar orang tua,” terangnya.(sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *